Meneladani Nabi Muhammad SAW

Allah SWT telah mengutus Rasulullah SAW bukan hanya untuk menyampaikan wahyu, tetapi juga untuk menjadi teladan bagi seluruh umat manusia.

Allah SWT berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًا

“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.”
(QS. Al-Ahzab: 21)

Ayat ini mengingatkan kita bahwa mencintai Rasulullah SAW tidak cukup hanya dengan mengucapkan shalawat. Kecintaan kepada Rasulullah harus diwujudkan dengan mengikuti akhlak, perilaku, dan ajaran beliau.

Pertama: Meneladani Akhlak Rasulullah SAW

Rasulullah SAW dikenal sebagai pribadi yang memiliki akhlak yang sangat mulia.

Allah SWT berfirman:

وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ

“Sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.”
(QS. Al-Qalam: 4)

Akhlak Rasulullah bukan hanya terlihat ketika beliau berhadapan dengan orang yang menyukainya. Bahkan kepada orang yang memusuhinya pun beliau tetap menunjukkan kesabaran, kelembutan, dan kasih sayang.

Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” (HR. Ahmad)

Karena itu, ukuran keberhasilan seorang Muslim bukan hanya seberapa banyak ilmu yang dimiliki, tetapi juga seberapa baik akhlaknya.

Jangan sampai kita rajin beribadah, tetapi masih mudah menyakiti orang lain.

Jangan sampai kita banyak membaca Al-Qur’an, tetapi masih ringan lidah kita untuk mencela.

Jangan sampai kita banyak bersedekah, tetapi masih sulit memaafkan.

Rasulullah SAW mengajarkan bahwa ibadah dan akhlak harus berjalan bersama.

Kedua: Meneladani Kejujuran Rasulullah SAW

Sebelum menjadi Rasul, Nabi Muhammad SAW telah dikenal oleh masyarakat Makkah sebagai Al-Amin, yaitu orang yang dapat dipercaya.

Kejujuran adalah salah satu sifat utama Rasulullah SAW.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan jadilah kamu bersama orang-orang yang benar.”
(QS. At-Taubah: 119)

Kejujuran Rasulullah harus menjadi teladan bagi kita dalam kehidupan sehari-hari.

Jujur dalam berbicara.
Jujur dalam bekerja.
Jujur dalam berdagang.
Jujur dalam mengemban amanah.
Jujur dalam menggunakan jabatan.
Jujur dalam mengelola harta.

Termasuk ketika tidak ada orang yang melihat kita.

Sebab seorang Muslim meyakini bahwa Allah selalu melihat apa yang kita kerjakan.

Ketiga: Meneladani Kasih Sayang Rasulullah SAW

Rasulullah SAW adalah sosok yang sangat penyayang.

Allah SWT berfirman:

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Sungguh, telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, sangat menginginkan keimanan dan keselamatan bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.”
(QS. At-Taubah: 128)

Kasih sayang Rasulullah tidak hanya kepada orang dewasa, tetapi juga kepada anak-anak, keluarga, orang miskin, bahkan kepada orang yang berbeda dengan beliau.

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ

“Barang siapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Maka mari kita bertanya kepada diri kita:

Sudahkah rumah kita menjadi tempat yang penuh kasih sayang?

Sudahkah kita berbicara dengan lembut kepada pasangan?

Sudahkah kita memberikan perhatian kepada anak-anak?

Sudahkah kita menghormati orang tua?

Sudahkah kita membantu tetangga yang kesulitan?

Meneladani Rasulullah berarti menghadirkan kasih sayang dalam kehidupan kita.

Keempat: Meneladani Kesabaran Rasulullah SAW

Perjalanan hidup Rasulullah SAW tidak selalu mudah.

Beliau dihina, dicaci, ditolak, bahkan disakiti oleh kaumnya. Namun beliau tidak membalas keburukan dengan keburukan.

Allah SWT berfirman:

وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ

“Bersabarlah, dan kesabaranmu itu semata-mata dengan pertolongan Allah.”
(QS. An-Nahl: 127)

Kesabaran Rasulullah mengajarkan kepada kita bahwa tidak semua masalah harus dibalas dengan kemarahan.

Ketika dihina, kita tidak harus membalas hinaan.

Ketika disakiti, kita tidak harus membalas dengan menyakiti.

Ketika menghadapi masalah, kita tidak boleh kehilangan harapan kepada Allah.

Sabar bukan berarti lemah. Sabar adalah kemampuan untuk tetap berada di jalan Allah ketika keadaan tidak sesuai dengan keinginan kita.

Kelima: Meneladani Rasulullah dalam Kehidupan Keluarga

Jamaah yang dirahmati Allah,

Meneladani Rasulullah tidak hanya dilakukan di masjid.

Rasulullah adalah teladan dalam kehidupan keluarga.

Beliau membantu pekerjaan keluarganya, memperlakukan istri dengan baik, menyayangi anak-anak, dan memberikan perhatian kepada keluarganya.

Aisyah RA pernah ditanya tentang apa yang dilakukan Rasulullah di rumah. Beliau menjawab:

كَانَ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ

“Beliau biasa membantu pekerjaan keluarganya.”
(HR. Bukhari)

Ini menjadi pelajaran penting bagi kita.

Jangan merasa bahwa pekerjaan rumah hanya menjadi tanggung jawab pasangan.

Jangan merasa bahwa mencari nafkah membuat seseorang bebas dari kewajiban memberikan perhatian kepada keluarga.

Rasulullah SAW memberikan contoh bahwa kemuliaan seorang laki-laki tidak berkurang ketika ia membantu keluarganya.

Justru di situlah terlihat akhlak dan keteladanan.

Keenam: Meneladani Rasulullah dalam Bermasyarakat

Rasulullah SAW juga mengajarkan kita untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain.

Beliau bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. Ahmad)

Maka keberadaan kita hendaknya memberikan manfaat.

Jika kita seorang pemimpin, jadilah pemimpin yang adil.

Jika kita seorang pegawai, jadilah pegawai yang amanah.

Jika kita seorang pengusaha, jadilah pengusaha yang jujur.

Jika kita seorang guru, jadilah guru yang mendidik dengan kasih sayang.

Jika kita seorang ayah, jadilah ayah yang menjadi teladan.

Jika kita seorang ibu, jadilah ibu yang penuh kasih sayang.

Dan di mana pun kita berada, jangan sampai keberadaan kita justru menjadi sumber kesusahan bagi orang lain.

Pada akhirnya, meneladani Nabi Muhammad SAW bukan hanya dengan memperingati kelahiran beliau, bukan hanya dengan memperbanyak shalawat, dan bukan hanya dengan mengagungkan nama beliau.

Tetapi yang lebih penting adalah menghidupkan sunnah dan akhlak beliau dalam kehidupan kita.

Mari kita bawa keteladanan Rasulullah ke rumah kita.

Kita bawa ke tempat kerja.

Kita bawa dalam bermasyarakat.

Kita bawa dalam cara kita berbicara.

Kita bawa dalam cara kita menggunakan harta.

Kita bawa dalam cara kita memimpin.

Dan kita bawa sampai akhir hayat kita.

Semoga kita termasuk umat Nabi Muhammad SAW yang mendapatkan syafaat beliau dan dikumpulkan bersama beliau di dalam surga Allah SWT.

-Eko Nur Cahyo DSP-