Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, Tuhan semesta alam, yang telah menganugerahkan kepada kita nikmat kesehatan, kekuatan raga, dan ketajaman pikiran. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sosok pemimpin yang memiliki ketangguhan, jiwa yang sportif, dan akhlak yang agung, yang menjadi teladan bagi kita semua dalam menjalani kehidupan.
Mari kita merenungkan kembali hakikat aktivitas fisik dalam pandangan Islam. Olahraga bukan sekadar aktivitas untuk mengolah otot atau memburu kemenangan. Lebih dari itu, olahraga dapat menjadi sarana untuk mengasah jiwa, membangun disiplin, menjaga kesehatan, dan memperkokoh ukhuwah Islamiah di antara sesama hamba Allah.
Islam adalah agama yang memperhatikan kekuatan dan kesehatan manusia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ، احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجِزْ.
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, namun pada keduanya terdapat kebaikan. Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah kamu lemah.”
(HR. Muslim no. 2664)
Kekuatan yang dimaksud dalam hadis ini memiliki makna yang luas. Kekuatan tidak hanya berkaitan dengan fisik, tetapi juga mencakup kekuatan iman, kemauan, ilmu, kesabaran, serta kemampuan untuk melakukan berbagai kebaikan. Kekuatan fisik pun dapat menjadi bagian dari kekuatan yang bernilai apabila digunakan untuk mendukung ketaatan kepada Allah, bekerja, beraktivitas, dan memberikan manfaat kepada sesama. Penjelasan ulama terhadap hadis ini juga menunjukkan bahwa makna kekuatan tidak terbatas pada kekuatan badan semata.
Dengan demikian, olahraga dapat menjadi salah satu ikhtiar untuk menjaga kesehatan dan membangun tubuh yang kuat. Namun, kekuatan fisik tanpa dilandasi akhlak yang baik dapat kehilangan maknanya. Di sinilah pentingnya sportivitas.
Sportivitas adalah bentuk kejujuran, keadilan, dan kemampuan mengendalikan diri dalam kompetisi. Islam mengajarkan kita untuk senantiasa berlaku adil, bahkan ketika berhadapan dengan orang yang tidak kita sukai sekalipun. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Ma’idah ayat 8:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-Ma’idah: 8)
Ayat ini mengajarkan bahwa rasa tidak suka sekalipun tidak boleh membuat seseorang meninggalkan keadilan. Nilai tersebut sangat relevan dalam olahraga. Ketika bertanding, kita boleh berusaha menjadi yang terbaik, tetapi kemenangan tidak boleh diraih dengan kecurangan, penghinaan, atau tindakan yang merugikan orang lain.
Dalam gelanggang olahraga, emosi sering kali memuncak. Persaingan untuk menjadi yang terbaik dapat memicu kemarahan, kecurangan, bahkan permusuhan. Namun, seorang Muslim sejati adalah ia yang mampu menaklukkan egonya sendiri sebelum ia menaklukkan lawan mainnya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ.
“Bukanlah orang yang kuat itu adalah orang yang pandai bergulat. Sesungguhnya orang yang kuat adalah orang yang mampu menguasai dirinya ketika marah.”
(HR. Bukhari no. 6114 dan Muslim no. 2609)
Hadis tersebut memberikan pelajaran bahwa kekuatan yang sesungguhnya tidak hanya terlihat dari kemampuan mengalahkan orang lain, tetapi juga dari kemampuan mengendalikan diri. Dalam olahraga, kemampuan tersebut tercermin ketika seseorang mampu menerima keputusan wasit, menghormati lawan, mengakui kesalahan, dan tetap menjaga ucapan serta tindakannya ketika mengalami kekalahan.
Inilah spirit sportivitas yang harus kita bawa keluar dari lapangan ke dalam kehidupan bermasyarakat. Ketika kita bertanding, menang tidak membuat kita sombong, dan kalah tidak membuat kita menghujat atau menyalahkan keadaan. Dalam Islam, kemenangan semestinya menjadi alasan untuk bersyukur, sementara kekalahan dapat menjadi kesempatan untuk belajar dan memperbaiki diri.
Lebih jauh lagi, olahraga hendaknya menjadi jembatan untuk mempererat ukhuwah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah kedua saudaramu (yang bertikai) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”
(QS. Al-Hujurat: 10)
Persaudaraan dalam Islam tidak seharusnya hilang hanya karena perbedaan pilihan, kelompok, kemampuan, maupun kompetisi. Justru berbagai perbedaan dapat menjadi kesempatan untuk saling mengenal dan membangun hubungan yang lebih baik.
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13)
Dalam sebuah pertandingan, kita mungkin menjadi lawan selama beberapa menit atau beberapa ronde. Namun, setelah pertandingan berakhir, kita kembali menjadi saudara dan sesama manusia yang harus saling menghormati. Tidak ada tempat bagi caci maki, rasisme, penghinaan, atau tindakan kasar yang merendahkan martabat orang lain. Akhlakul karimah harus tetap terjaga, baik di dalam maupun di luar arena.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
لَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَنَاجَشُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا. الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ، وَلَا يَخْذُلُهُ، وَلَا يَحْقِرُهُ.
“Janganlah kalian saling dengki, jangan saling menaikkan harga dengan cara yang tidak semestinya, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak menzaliminya, tidak membiarkannya (dalam kesulitan), dan tidak merendahkannya.”
(HR. Muslim no. 2564a)
Hadis ini mengingatkan bahwa persaudaraan tidak boleh dikalahkan oleh persaingan. Kita boleh berkompetisi untuk meraih prestasi, tetapi tidak boleh menjadikan kompetisi sebagai alasan untuk merendahkan saudara kita sendiri. Bahkan, salah satu bentuk buruknya persaingan adalah ketika seseorang membiarkan rasa dengki, benci, atau merendahkan orang lain menguasai dirinya.
Bayangkan betapa indahnya jika nilai-nilai ini diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Jika dalam permainan yang penuh kompetisi saja kita mampu menahan diri, bersikap adil, dan menghormati lawan, maka semestinya kita pun mampu menerapkannya dalam kehidupan sosial. Perbedaan pendapat, pilihan, maupun latar belakang tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling merendahkan dan memutus persaudaraan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya.”
(QS. Al-Ma’idah: 2)
Nilai kebersamaan dalam olahraga dapat menjadi contoh nyata dari semangat tersebut. Dalam sebuah tim, setiap orang memiliki peran dan kemampuan yang berbeda. Ada yang menjadi pemain utama, ada yang menjadi cadangan, ada yang melatih, ada yang mengatur strategi, dan ada pula yang memberikan dukungan dari luar lapangan. Semuanya dapat berkontribusi untuk mencapai tujuan bersama.
Namun, kita perlu waspada. Jangan sampai minat pada olahraga membuat kita melalaikan kewajiban utama: ibadah kepada Allah. Olahraga adalah sarana, bukan tujuan akhir.
Jangan sampai olahraga justru menjadi sebab kita melalaikan salat, membuka aurat, terjerumus dalam perjudian, terjebak dalam fanatisme yang berlebihan, atau melakukan tindakan yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Olahraga yang pada asalnya dapat menjadi aktivitas yang bermanfaat tidak seharusnya diisi dengan hal-hal yang bertentangan dengan syariat.
Dengan demikian, olahraga tidak hanya berbicara tentang siapa yang paling cepat, paling kuat, atau paling banyak mencetak angka. Di balik kompetisi, ada kesempatan untuk belajar tentang disiplin, kejujuran, kesabaran, kerja sama, dan penghormatan kepada sesama.
Mari kita bangun fisik yang kuat agar aktivitas dan ibadah kita semakin mantap. Mari kita bangun jiwa yang sportif agar akhlak kita semakin mulia. Mari menjadikan olahraga sebagai ruang untuk bertemu, bekerja sama, saling menghargai, dan mempererat persaudaraan.
Olahraga adalah cerminan dari kedewasaan kita dalam menghadapi kemenangan maupun kekalahan. Mari menjadi pribadi yang tangguh di lapangan, namun tetap santun dalam keseharian.
Karena sesungguhnya, kemenangan yang paling hakiki bukanlah sekadar piala atau medali, melainkan rida Allah Subhanahu wa Ta’ala yang kita peroleh melalui ketakwaan, kejujuran, dan akhlak mulia dalam menjalani kehidupan.
Sebab boleh jadi kita tidak selalu pulang membawa piala, tetapi kita dapat selalu pulang membawa persaudaraan.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan olahraga sebagai sarana untuk menjaga kesehatan, membentuk akhlak yang mulia, memperkuat persaudaraan, dan mendekatkan kita kepada-Nya.
Amin ya Rabbal ‘alamin.
-Muhammad Al Hudrizi DSP-















