Tag Archive for: Muhammad

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, Tuhan semesta alam, yang telah menganugerahkan kepada kita nikmat kesehatan, kekuatan raga, dan ketajaman pikiran. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sosok pemimpin yang memiliki ketangguhan, jiwa yang sportif, dan akhlak yang agung, yang menjadi teladan bagi kita semua dalam menjalani kehidupan.

Mari kita merenungkan kembali hakikat aktivitas fisik dalam pandangan Islam. Olahraga bukan sekadar aktivitas untuk mengolah otot atau memburu kemenangan. Lebih dari itu, olahraga dapat menjadi sarana untuk mengasah jiwa, membangun disiplin, menjaga kesehatan, dan memperkokoh ukhuwah Islamiah di antara sesama hamba Allah.

Islam adalah agama yang memperhatikan kekuatan dan kesehatan manusia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ، احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجِزْ.

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, namun pada keduanya terdapat kebaikan. Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah kamu lemah.”

(HR. Muslim no. 2664)

Kekuatan yang dimaksud dalam hadis ini memiliki makna yang luas. Kekuatan tidak hanya berkaitan dengan fisik, tetapi juga mencakup kekuatan iman, kemauan, ilmu, kesabaran, serta kemampuan untuk melakukan berbagai kebaikan. Kekuatan fisik pun dapat menjadi bagian dari kekuatan yang bernilai apabila digunakan untuk mendukung ketaatan kepada Allah, bekerja, beraktivitas, dan memberikan manfaat kepada sesama. Penjelasan ulama terhadap hadis ini juga menunjukkan bahwa makna kekuatan tidak terbatas pada kekuatan badan semata.

Dengan demikian, olahraga dapat menjadi salah satu ikhtiar untuk menjaga kesehatan dan membangun tubuh yang kuat. Namun, kekuatan fisik tanpa dilandasi akhlak yang baik dapat kehilangan maknanya. Di sinilah pentingnya sportivitas.

Sportivitas adalah bentuk kejujuran, keadilan, dan kemampuan mengendalikan diri dalam kompetisi. Islam mengajarkan kita untuk senantiasa berlaku adil, bahkan ketika berhadapan dengan orang yang tidak kita sukai sekalipun. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Ma’idah ayat 8:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

(QS. Al-Ma’idah: 8)

Ayat ini mengajarkan bahwa rasa tidak suka sekalipun tidak boleh membuat seseorang meninggalkan keadilan. Nilai tersebut sangat relevan dalam olahraga. Ketika bertanding, kita boleh berusaha menjadi yang terbaik, tetapi kemenangan tidak boleh diraih dengan kecurangan, penghinaan, atau tindakan yang merugikan orang lain.

Dalam gelanggang olahraga, emosi sering kali memuncak. Persaingan untuk menjadi yang terbaik dapat memicu kemarahan, kecurangan, bahkan permusuhan. Namun, seorang Muslim sejati adalah ia yang mampu menaklukkan egonya sendiri sebelum ia menaklukkan lawan mainnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ.

“Bukanlah orang yang kuat itu adalah orang yang pandai bergulat. Sesungguhnya orang yang kuat adalah orang yang mampu menguasai dirinya ketika marah.”

(HR. Bukhari no. 6114 dan Muslim no. 2609)

Hadis tersebut memberikan pelajaran bahwa kekuatan yang sesungguhnya tidak hanya terlihat dari kemampuan mengalahkan orang lain, tetapi juga dari kemampuan mengendalikan diri. Dalam olahraga, kemampuan tersebut tercermin ketika seseorang mampu menerima keputusan wasit, menghormati lawan, mengakui kesalahan, dan tetap menjaga ucapan serta tindakannya ketika mengalami kekalahan.

Inilah spirit sportivitas yang harus kita bawa keluar dari lapangan ke dalam kehidupan bermasyarakat. Ketika kita bertanding, menang tidak membuat kita sombong, dan kalah tidak membuat kita menghujat atau menyalahkan keadaan. Dalam Islam, kemenangan semestinya menjadi alasan untuk bersyukur, sementara kekalahan dapat menjadi kesempatan untuk belajar dan memperbaiki diri.

Lebih jauh lagi, olahraga hendaknya menjadi jembatan untuk mempererat ukhuwah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah kedua saudaramu (yang bertikai) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”

(QS. Al-Hujurat: 10)

Persaudaraan dalam Islam tidak seharusnya hilang hanya karena perbedaan pilihan, kelompok, kemampuan, maupun kompetisi. Justru berbagai perbedaan dapat menjadi kesempatan untuk saling mengenal dan membangun hubungan yang lebih baik.

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”

(QS. Al-Hujurat: 13)

Dalam sebuah pertandingan, kita mungkin menjadi lawan selama beberapa menit atau beberapa ronde. Namun, setelah pertandingan berakhir, kita kembali menjadi saudara dan sesama manusia yang harus saling menghormati. Tidak ada tempat bagi caci maki, rasisme, penghinaan, atau tindakan kasar yang merendahkan martabat orang lain. Akhlakul karimah harus tetap terjaga, baik di dalam maupun di luar arena.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

لَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَنَاجَشُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا. الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ، وَلَا يَخْذُلُهُ، وَلَا يَحْقِرُهُ.

“Janganlah kalian saling dengki, jangan saling menaikkan harga dengan cara yang tidak semestinya, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak menzaliminya, tidak membiarkannya (dalam kesulitan), dan tidak merendahkannya.”

(HR. Muslim no. 2564a)

Hadis ini mengingatkan bahwa persaudaraan tidak boleh dikalahkan oleh persaingan. Kita boleh berkompetisi untuk meraih prestasi, tetapi tidak boleh menjadikan kompetisi sebagai alasan untuk merendahkan saudara kita sendiri. Bahkan, salah satu bentuk buruknya persaingan adalah ketika seseorang membiarkan rasa dengki, benci, atau merendahkan orang lain menguasai dirinya.

Bayangkan betapa indahnya jika nilai-nilai ini diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Jika dalam permainan yang penuh kompetisi saja kita mampu menahan diri, bersikap adil, dan menghormati lawan, maka semestinya kita pun mampu menerapkannya dalam kehidupan sosial. Perbedaan pendapat, pilihan, maupun latar belakang tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling merendahkan dan memutus persaudaraan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya.”

(QS. Al-Ma’idah: 2)

Nilai kebersamaan dalam olahraga dapat menjadi contoh nyata dari semangat tersebut. Dalam sebuah tim, setiap orang memiliki peran dan kemampuan yang berbeda. Ada yang menjadi pemain utama, ada yang menjadi cadangan, ada yang melatih, ada yang mengatur strategi, dan ada pula yang memberikan dukungan dari luar lapangan. Semuanya dapat berkontribusi untuk mencapai tujuan bersama.

Namun, kita perlu waspada. Jangan sampai minat pada olahraga membuat kita melalaikan kewajiban utama: ibadah kepada Allah. Olahraga adalah sarana, bukan tujuan akhir.

Jangan sampai olahraga justru menjadi sebab kita melalaikan salat, membuka aurat, terjerumus dalam perjudian, terjebak dalam fanatisme yang berlebihan, atau melakukan tindakan yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Olahraga yang pada asalnya dapat menjadi aktivitas yang bermanfaat tidak seharusnya diisi dengan hal-hal yang bertentangan dengan syariat.

Dengan demikian, olahraga tidak hanya berbicara tentang siapa yang paling cepat, paling kuat, atau paling banyak mencetak angka. Di balik kompetisi, ada kesempatan untuk belajar tentang disiplin, kejujuran, kesabaran, kerja sama, dan penghormatan kepada sesama.

Mari kita bangun fisik yang kuat agar aktivitas dan ibadah kita semakin mantap. Mari kita bangun jiwa yang sportif agar akhlak kita semakin mulia. Mari menjadikan olahraga sebagai ruang untuk bertemu, bekerja sama, saling menghargai, dan mempererat persaudaraan.

Olahraga adalah cerminan dari kedewasaan kita dalam menghadapi kemenangan maupun kekalahan. Mari menjadi pribadi yang tangguh di lapangan, namun tetap santun dalam keseharian.

Karena sesungguhnya, kemenangan yang paling hakiki bukanlah sekadar piala atau medali, melainkan rida Allah Subhanahu wa Ta’ala yang kita peroleh melalui ketakwaan, kejujuran, dan akhlak mulia dalam menjalani kehidupan.

Sebab boleh jadi kita tidak selalu pulang membawa piala, tetapi kita dapat selalu pulang membawa persaudaraan.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan olahraga sebagai sarana untuk menjaga kesehatan, membentuk akhlak yang mulia, memperkuat persaudaraan, dan mendekatkan kita kepada-Nya.

Amin ya Rabbal ‘alamin.

-Muhammad Al Hudrizi DSP-

 

Allah SWT telah mengutus Rasulullah SAW bukan hanya untuk menyampaikan wahyu, tetapi juga untuk menjadi teladan bagi seluruh umat manusia.

Allah SWT berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًا

“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.”
(QS. Al-Ahzab: 21)

Ayat ini mengingatkan kita bahwa mencintai Rasulullah SAW tidak cukup hanya dengan mengucapkan shalawat. Kecintaan kepada Rasulullah harus diwujudkan dengan mengikuti akhlak, perilaku, dan ajaran beliau.

Pertama: Meneladani Akhlak Rasulullah SAW

Rasulullah SAW dikenal sebagai pribadi yang memiliki akhlak yang sangat mulia.

Allah SWT berfirman:

وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ

“Sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.”
(QS. Al-Qalam: 4)

Akhlak Rasulullah bukan hanya terlihat ketika beliau berhadapan dengan orang yang menyukainya. Bahkan kepada orang yang memusuhinya pun beliau tetap menunjukkan kesabaran, kelembutan, dan kasih sayang.

Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” (HR. Ahmad)

Karena itu, ukuran keberhasilan seorang Muslim bukan hanya seberapa banyak ilmu yang dimiliki, tetapi juga seberapa baik akhlaknya.

Jangan sampai kita rajin beribadah, tetapi masih mudah menyakiti orang lain.

Jangan sampai kita banyak membaca Al-Qur’an, tetapi masih ringan lidah kita untuk mencela.

Jangan sampai kita banyak bersedekah, tetapi masih sulit memaafkan.

Rasulullah SAW mengajarkan bahwa ibadah dan akhlak harus berjalan bersama.

Kedua: Meneladani Kejujuran Rasulullah SAW

Sebelum menjadi Rasul, Nabi Muhammad SAW telah dikenal oleh masyarakat Makkah sebagai Al-Amin, yaitu orang yang dapat dipercaya.

Kejujuran adalah salah satu sifat utama Rasulullah SAW.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan jadilah kamu bersama orang-orang yang benar.”
(QS. At-Taubah: 119)

Kejujuran Rasulullah harus menjadi teladan bagi kita dalam kehidupan sehari-hari.

Jujur dalam berbicara.
Jujur dalam bekerja.
Jujur dalam berdagang.
Jujur dalam mengemban amanah.
Jujur dalam menggunakan jabatan.
Jujur dalam mengelola harta.

Termasuk ketika tidak ada orang yang melihat kita.

Sebab seorang Muslim meyakini bahwa Allah selalu melihat apa yang kita kerjakan.

Ketiga: Meneladani Kasih Sayang Rasulullah SAW

Rasulullah SAW adalah sosok yang sangat penyayang.

Allah SWT berfirman:

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Sungguh, telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, sangat menginginkan keimanan dan keselamatan bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.”
(QS. At-Taubah: 128)

Kasih sayang Rasulullah tidak hanya kepada orang dewasa, tetapi juga kepada anak-anak, keluarga, orang miskin, bahkan kepada orang yang berbeda dengan beliau.

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ

“Barang siapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Maka mari kita bertanya kepada diri kita:

Sudahkah rumah kita menjadi tempat yang penuh kasih sayang?

Sudahkah kita berbicara dengan lembut kepada pasangan?

Sudahkah kita memberikan perhatian kepada anak-anak?

Sudahkah kita menghormati orang tua?

Sudahkah kita membantu tetangga yang kesulitan?

Meneladani Rasulullah berarti menghadirkan kasih sayang dalam kehidupan kita.

Keempat: Meneladani Kesabaran Rasulullah SAW

Perjalanan hidup Rasulullah SAW tidak selalu mudah.

Beliau dihina, dicaci, ditolak, bahkan disakiti oleh kaumnya. Namun beliau tidak membalas keburukan dengan keburukan.

Allah SWT berfirman:

وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ

“Bersabarlah, dan kesabaranmu itu semata-mata dengan pertolongan Allah.”
(QS. An-Nahl: 127)

Kesabaran Rasulullah mengajarkan kepada kita bahwa tidak semua masalah harus dibalas dengan kemarahan.

Ketika dihina, kita tidak harus membalas hinaan.

Ketika disakiti, kita tidak harus membalas dengan menyakiti.

Ketika menghadapi masalah, kita tidak boleh kehilangan harapan kepada Allah.

Sabar bukan berarti lemah. Sabar adalah kemampuan untuk tetap berada di jalan Allah ketika keadaan tidak sesuai dengan keinginan kita.

Kelima: Meneladani Rasulullah dalam Kehidupan Keluarga

Jamaah yang dirahmati Allah,

Meneladani Rasulullah tidak hanya dilakukan di masjid.

Rasulullah adalah teladan dalam kehidupan keluarga.

Beliau membantu pekerjaan keluarganya, memperlakukan istri dengan baik, menyayangi anak-anak, dan memberikan perhatian kepada keluarganya.

Aisyah RA pernah ditanya tentang apa yang dilakukan Rasulullah di rumah. Beliau menjawab:

كَانَ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ

“Beliau biasa membantu pekerjaan keluarganya.”
(HR. Bukhari)

Ini menjadi pelajaran penting bagi kita.

Jangan merasa bahwa pekerjaan rumah hanya menjadi tanggung jawab pasangan.

Jangan merasa bahwa mencari nafkah membuat seseorang bebas dari kewajiban memberikan perhatian kepada keluarga.

Rasulullah SAW memberikan contoh bahwa kemuliaan seorang laki-laki tidak berkurang ketika ia membantu keluarganya.

Justru di situlah terlihat akhlak dan keteladanan.

Keenam: Meneladani Rasulullah dalam Bermasyarakat

Rasulullah SAW juga mengajarkan kita untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain.

Beliau bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. Ahmad)

Maka keberadaan kita hendaknya memberikan manfaat.

Jika kita seorang pemimpin, jadilah pemimpin yang adil.

Jika kita seorang pegawai, jadilah pegawai yang amanah.

Jika kita seorang pengusaha, jadilah pengusaha yang jujur.

Jika kita seorang guru, jadilah guru yang mendidik dengan kasih sayang.

Jika kita seorang ayah, jadilah ayah yang menjadi teladan.

Jika kita seorang ibu, jadilah ibu yang penuh kasih sayang.

Dan di mana pun kita berada, jangan sampai keberadaan kita justru menjadi sumber kesusahan bagi orang lain.

Pada akhirnya, meneladani Nabi Muhammad SAW bukan hanya dengan memperingati kelahiran beliau, bukan hanya dengan memperbanyak shalawat, dan bukan hanya dengan mengagungkan nama beliau.

Tetapi yang lebih penting adalah menghidupkan sunnah dan akhlak beliau dalam kehidupan kita.

Mari kita bawa keteladanan Rasulullah ke rumah kita.

Kita bawa ke tempat kerja.

Kita bawa dalam bermasyarakat.

Kita bawa dalam cara kita berbicara.

Kita bawa dalam cara kita menggunakan harta.

Kita bawa dalam cara kita memimpin.

Dan kita bawa sampai akhir hayat kita.

Semoga kita termasuk umat Nabi Muhammad SAW yang mendapatkan syafaat beliau dan dikumpulkan bersama beliau di dalam surga Allah SWT.

-Eko Nur Cahyo DSP-

12 Rabiul Awal Tahun Gajah bertepatan dengan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, yaitu pada hari Senin, 20 April 571 Masehi. Tahun Gajah adalah tahun ketika pasukan bergajah yang dipimpin oleh Abrahah bin Shabah, Gubernur Jenderal Najasyi Habasyah di Yaman, menyerang. Namun, Allah SWT menghancurkan pasukan tersebut sebagai bentuk penghormatan atas kelahiran Nabi Muhammad SAW, sejak dalam kandungan beliau sudah ditinggalkan ayahnya, belum genap usia enam tahun sudah ditinggalkan ibunya.

Rasulullah Muhammad SAW merupakan nabi terakhir dan penutup dari seluruh nabi serta rasul yang diutus oleh Allah untuk umat manusia. Beliau adalah teladan sempurna dalam segala aspek kehidupan, dan segala perbuatan, ucapan, serta perilakunya mengandung hikmah yang luar biasa. Kepribadian beliau yang mulia tidak hanya menjadi teladan bagi umat Islam, tetapi juga relevan bagi seluruh umat manusia sepanjang zaman. Sebagai uswatun hasanah (contoh yang baik), beliau menunjukkan sikap-sikap mulia yang dapat diterapkan dalam berbagai situasi, seperti dalam hubungan sosial, ekonomi, kepemimpinan, dan juga hubungan pribadi dengan Allah.

Usia 40 tahun, Rasulullah Muhammad SAW diangkat menjadi rasul, dan seperti rasul-rasul lainnya, beliau memiliki sifat-sifat wajib yang pasti dimiliki oleh setiap nabi dan rasul. Sifat-sifat ini merupakan karakteristik yang tak terpisahkan dari diri seorang rasul yang membedakannya dari manusia biasa. Sifat-sifat wajib bagi para rasul adalah:

  1. Siddiq, artinya benar.
  2. Amanah, yang artinya dapat dipercaya.
  3. Tabliq, memiliki makna yakni menyampaikan wahyu.
  4. Fathonah, yang artinya yaitu cerdas, pandai dan bijaksana.

Selain sifat wajib tersebut, Rasulullah Muhammad SAW juga memilikli Akhlaq mulia yang bisa kita jadikan pedoman dan suri tauladan agar kita senantiasa berakhlaq baik sesuai dengan ajaran-Nya. Hal ini didasarkan dalam hadist yang berbunyi: “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kesalehan akhlak.” (HR. Bukhari dan Abu Hurairah r.a.).

Dalam kitab Shifat Al-shafwah menjelaskan contoh keteladanan akhlak rasulullah dalam 5 aspek kehidupan. 

  • Pertama Rasul tidak pernah sombong. 
  • Kedua Rasul tidak pernah berlaku kasar, tidak pernah berteriak ataupun melakukan hal hal buruk, beliau adalah orang yang lemah lembut hatinya.
  • Ketiga Rasul mempunyai sifat toleran. 
  • Keempat Rasul mempunyai sifat dermawan. 
  • Dan yang terakhir Rasul mempunyai sifat cinta sesama. 

Kemuliaan akhlak rasul tersebut tergambar melalui kisah ketika beliau berhadapan dengan seorang pengemis buta. Dikisahkan saat nabi Muhammad tengah menyebarkan ajaran agama Islam, terdapat seorang pengemis buta yang selalu menghina dan membenci Rasulullah, bahkan ia tidak segan-segan untuk menghasut orang lain agar membenci rasul. Jika ada seseorang yang mendekatinya, pengemis buta tersebut akan berkata “Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad. Dia itu orang gila, pembohong, tukang sihir. Apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya!”.

Hal itu terus menerus dikatakan oleh si pengemis buta kepada seseorang yang setiap hari memberikannya makanan bahkan menyuapinya. Kemudian pada suatu hari, ia merasa sangat kelaparan karena seseorang yang biasa memberikannya makanan dan mendengar ujaran kebenciannya kepada nabi Muhammad tidak kunjung menemuinya. 

Pada hari berikutnya, ada seseorang yang kembali mendatangi pengemis buta tersebut dan menyuapinya. Namun si pengemis tersebut sadar bahwa orang yang menyuapinya kali ini sangat berbeda dengan seseorang yang sering menyuapinya selama ini. Lalu ia pun berkata “Siapakah kamu? Kamu bukanlah orang yang biasa mendatangiku”. 

Orang itupun menjawab Aku memang bukan orang yang biasa datang kepadamu. Aku adalah salah seorang sahabatnya. Namaku Abu Bakar. Orang mulia yang biasa memberimu makan itu telah meninggal dunia. Dia adalah nabi Muhammad SAW”.

Jawaban tersebut sontak membuat si pengemis buta tersebut kaget dan merasa sangat menyesal telah memperolok nabi Muhammad, seseorang yang jelas-jelas selalu ia caci maki namun tetap memberikannya perhatian selama ini. Kemudian iapun tersadar bahwa Nabi Muhammad SAW adalah sosok yang memiliki akhlak sangat mulia. Beliau adalah pribadi yahg selalu bersabar dan ikhlas dalam menebar kebaikan bagi banyak orang.

Allah SWT telah berfirman dalam Al-Quran surat AZ-Zumar Ayat 10:

قُلۡ يٰعِبَادِ الَّذِيۡنَ اٰمَنُوا اتَّقُوۡا رَبَّكُمۡ​ ؕ لِلَّذِيۡنَ اَحۡسَنُوۡا فِىۡ هٰذِهِ الدُّنۡيَا حَسَنَةٌ ​ ؕ وَاَرۡضُ اللّٰهِ وَاسِعَةٌ ​ ؕ اِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوۡنَ اَجۡرَهُمۡ بِغَيۡرِ حِسَابٍ‏

Artinya: Katakanlah (Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman! Bertakwalah kepada Tuhanmu.” Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.

Berdasarkan kisah tersebut, semoga kita senantiasa bisa mencontoh dan mengambil hikmah dari akhlak mulia Rasulallah Muhammad SAW saat menebarkan kebaikan. Meski kadang menerima perlakuan yang zolim, namun kita harus tetap ikhlas dan bersabar dalam menegakan kebaikan tersebut.

Marilah sama-sama berdo’a agar kita bisa meneladani akhlaq Rasulallah Muhammad SAW dan mencintai beliau diatas segalanya. Semoga kita menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain dan termasuk golongan orang yang dirindukan masuk surga bersama Rasulullah Muhammad SAW.

Sumber: “Kumpulan pidato Bahasa Indonesia PORSADIN Tahun 2022”

               “Sirah Nabawiayah Syaikh Shafiyyurrahman AL-Mubarakfuri”

               “Shifat Al-shafwah Ibnu Al-Jauzi, Jamaluddin Abi al-Faraj”