Tag Archive for: Susilo Indarto

Kita mengenal bangkrut sebagai keadaan ketika seseorang kehilangan harta. Usaha yang dibangun bertahun-tahun tidak lagi menghasilkan, tabungan habis, utang menumpuk, dan pada akhirnya tidak ada lagi yang tersisa. Tetapi ternyata, ada bentuk kebangkrutan yang jauh lebih berat. Bukan bangkrut di dunia, melainkan bangkrut di akhirat. 

Rasulullah ﷺ pernah bertanya kepada para sahabat: أَتَدْرُوْنَ مَا الْمُفْلِسُ؟

“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?”

Para sahabat menjawab, bahwa orang yang bangkrut adalah orang yang tidak memiliki dirham dan harta.

فَقَالَ “إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي، يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هٰذَا، وَقَذَفَ هٰذَا، وَأَكَلَ مَالَ هٰذَا، وَسَفَكَ دَمَ هٰذَا، وَضَرَبَ هٰذَا. فَيُعْطَى هٰذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهٰذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ. فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ، قَبْلَ أَنْ يَقْضِيَ مَا عَلَيْهِ، أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ. ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ”

Rasulullah ﷺ kemudian bersabda, “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala salat, puasa, dan zakat. Namun ia juga datang membawa dosa pernah mencaci maki si ini, menuduh si ini, memakan harta si ini, menumpahkan darah si ini, dan memukul si ini. Maka kebaikannya diberikan kepada orang-orang yang dizaliminya. Jika kebaikannya telah habis sebelum tuntutan orang-orang yang dizaliminya selesai, maka dosa-dosa mereka (yang dizalimi) ditimpakan kepadanya, kemudian ia pun dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim no. 2581). [1]

 

Hadis ini terasa begitu kuat karena orang yang disebut Rasulullah ﷺ sebagai muflis atau orang yang bangkrut bukanlah orang yang tidak memiliki amal. Ia justru datang dengan membawa shalat, puasa, dan zakat.

Masalahnya adalah ia juga membawa kezaliman terhadap sesama. Dengan kata lain, seseorang bisa saja terlihat kaya dengan amal ibadah, tetapi ternyata memiliki “utang” yang begitu besar kepada manusia. Gambaran inilah yang disebut sebagai bentuk kebangkrutan yang sesungguhnya di akhirat.[1]

Ketika Kesalehan Tidak Berhenti di Tempat Ibadah

Dalam kehidupan seorang Muslim, terdapat dua sisi hubungan yang perlu dijaga: ḥablum minallāh, yaitu hubungan seorang hamba dengan Allah, dan ḥablum minannās, yaitu hubungan dengan sesama manusia.

Keduanya tidak seharusnya berjalan sendiri-sendiri. Shalat, puasa, zakat, membaca Al-Qur’an, dan berbagai ibadah lainnya merupakan bagian dari upaya memperbaiki hubungan kita dengan Allah. Namun, kesalehan tersebut juga semestinya tercermin dalam bagaimana kita memperlakukan orang lain seperti menjaga lisan, menghormati kehormatan sesama, menunaikan amanah, tidak mengambil hak orang lain, serta tidak menzalimi siapa pun.

Al-Qur’an sendiri memberikan gambaran yang menarik tentang hal ini. Allah memerintahkan manusia untuk berpegang teguh kepada agama-Nya sekaligus menjaga persatuan dan hubungan antarsesama:

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُو 

“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, janganlah kamu bercerai-berai…” (QS. Ali ‘Imran [3]: 103). [3]

Dalam penjelasan para ulama, ayat ini menjadi salah satu landasan penting tentang pentingnya menjaga hubungan dan persatuan di antara manusia. Karena itu, keberagamaan tidak cukup hanya diukur dari banyaknya ibadah yang dilakukan secara pribadi. Ia juga terlihat dari bagaimana seseorang hadir di tengah masyarakat. Apakah kehadirannya membawa kebaikan, atau justru menghadirkan luka dan kerugian bagi orang lain.

Di sinilah hadis tentang muflis menjadi sangat relevan. Seseorang dapat membawa shalat, puasa, dan zakat ketika menghadap Allah, tetapi jika selama hidupnya ia gemar mencaci, menuduh, mengambil hak, atau menzalimi orang lain, amal yang dibawanya justru dapat menjadi jalan untuk menyelesaikan hak orang-orang yang pernah dizaliminya. (HR. Muslim no. 2581). [1]

Dengan demikian, kesalehan bukan hanya tentang seberapa dekat kita dengan Allah dalam ibadah, tetapi juga tentang seberapa baik kita memperlakukan makhluk-Nya. Hubungan dengan Allah dan hubungan dengan manusia semestinya saling menguatkan, bukan justru bertolak belakang.

Allah berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka yang diperolok-olokkan lebih baik dari mereka yang mengolok-olok. Dan jangan pula perempuan-perempuan mengolok-olok perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan yang diperolok-olokkan lebih baik dari perempuan yang mengolok-olok. Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Hujurat [49]: 11). [3]

Pada ayat yang sama, Allah melarang mencela dan memanggil orang lain dengan gelar-gelar yang buruk. Kemudian pada ayat berikutnya, Allah melanjutkan:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat [49]: 12). [3]

Mari kita perhatikan perkara-perkara yang disebutkan dalam ayat tersebut.

Mengejek, mencela, memberi julukan buruk, berprasangka, mencari-cari kesalahan, dan membicarakan keburukan orang lain ketika ia tidak ada. Hal-hal yang mungkin terlihat sederhana dalam kehidupan sehari-hari ternyata mendapat perhatian serius dalam Al-Qur’an.

Bahkan Allah memberikan gambaran yang sangat keras tentang ghibah. Membicarakan keburukan saudara sendiri ketika ia tidak ada diibaratkan seperti memakan daging saudaranya yang telah meninggal. (QS. Al-Hujurat [49]: 12). [3]

Peringatan yang serupa juga terdapat dalam QS. Al-Humazah:

وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍۙ  

“Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela.” (QS. Al-Humazah [104]: 1). [4]

Artinya, lisan bukan perkara kecil dalam Islam. Satu ucapan yang merendahkan. Satu tuduhan yang tidak benar. Satu cerita yang seharusnya tidak disebarkan. Bahkan satu candaan yang membuat orang lain merasa dipermalukan, semuanya perlu kita pertimbangkan dengan hati-hati.

Sebab kita tidak pernah tahu apakah orang yang kita sakiti akan melupakan semuanya atau justru membawa persoalan tersebut hingga hari ketika seluruh amal diperhitungkan.

Yang Dipertaruhkan Bukan Hanya Perasaan

Kezaliman kepada manusia juga tidak berhenti pada lisan.

Allah berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ اِلَّآ اَنْ تَكُوْنَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِّنْكُمْۗ 

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan cara yang batil (tidak benar), kecuali berupa perniagaan atas dasar suka sama suka di antara kamu…” (QS. An-Nisa’ [4]: 29). [5]

Islam memberikan perhatian besar terhadap hak manusia. Harta, kehormatan, darah, dan berbagai hak lainnya tidak boleh dilanggar. Hal ini sejalan dengan hadis muflis. Rasulullah ﷺ tidak hanya menyebut orang yang mencaci atau menuduh, tetapi juga orang yang mengambil harta, menumpahkan darah, dan melakukan kekerasan terhadap orang lain.[1]

Maka, persoalan dengan sesama manusia bukan sekadar persoalan “hubungan sosial”. Ia juga merupakan bagian dari pertanggungjawaban kita di hadapan Allah. Seseorang tidak cukup hanya memperhatikan kesalehan ritual. Kesalehan tersebut perlu berjalan bersama kesalehan sosial, termasuk menjaga diri dari kesalahan terhadap sesama dan menyelesaikan kesalahan yang telah dilakukan.[6]

Jangan Sampai Pahala Menjadi Alat Pembayaran

Bayangkan seseorang yang selama hidupnya berusaha mengumpulkan pahala.

Ia shalat.

Ia berpuasa.

Ia bersedekah.

Ia membaca Al-Qur’an.

Ia berusaha melakukan berbagai amal kebaikan.

Namun, ketika tiba hari kiamat, datanglah orang-orang yang pernah ia sakiti. Satu per satu hak mereka dituntut. Pada saat itu, tidak ada lagi uang yang bisa digunakan untuk membayar.

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa siapa saja yang pernah menzalimi saudaranya hendaknya meminta penyelesaian darinya ketika masih di dunia, sebelum datang hari ketika tidak ada lagi dinar maupun dirham. Pada hari itu, kebaikannya akan diberikan kepada orang yang pernah dizaliminya. (HR. Bukhari no. 6534). [7]

Inilah yang membuat hadis muflis begitu menggetarkan. Yang berpindah kepada orang lain bukan harta kita. Bukan rumah. Bukan kendaraan. Bukan tabungan. Tetapi amal kebaikan kita. Pahala shalat. Pahala puasa. Pahala sedekah. Pahala amal-amal baik yang selama ini kita kumpulkan. Semua itu dapat menjadi bagian dari penyelesaian hak manusia yang pernah kita zalimi. [1][7]

Karena itu, meminta maaf bukan tanda kelemahan. Mengembalikan hak bukan berarti merendahkan diri. Mengakui kesalahan bukan berarti kalah. Justru, menyelesaikan kesalahan ketika masih berada di dunia adalah kesempatan yang Allah berikan kepada kita sebelum datang hari ketika kesempatan itu tidak lagi tersedia. Sebab boleh jadi kita merasa sedang mengumpulkan banyak pahala, tetapi tanpa sadar kita juga sedang mengumpulkan tuntutan dari orang-orang yang pernah kita sakiti dan zalimi. Dan inilah yang perlu kita waspadai. Jangan sampai kita kaya amal di dunia, tetapi bangkrut ketika menghadap Allah.

Semoga Allah memperbaiki ibadah kita sekaligus memperindah akhlak kita. Semoga Allah menjaga lisan kita dari menyakiti, tangan kita dari menzalimi, dan hati kita dari merendahkan sesama.

Dan semoga ketika tiba waktunya menghadap Allah, kita tidak datang dengan membawa banyak tuntutan manusia yang belum terselesaikan.

Allahumma aamiin.

Maraji’ / Daftar Pustaka

[1] Muslim ibn al-Hajjaj. Shahih Muslim, Kitab al-Birr wa ash-Shilah wa al-Adab, Hadis no. 2581. Hadis Abu Hurairah r.a. tentang al-muflis (orang yang bangkrut di akhirat). (Sunnah.com).

[2] Patoni. “Riwayat Nabi Muhammad tentang Manusia Bangkrut di Akhirat.” NU Online, 20 Februari 2022. (NU Online).

[3] Al-Qur’an, Surah Al-Hujurat [49]: 11–12. Larangan merendahkan, mencela, memberi julukan buruk, berprasangka, mencari-cari kesalahan, dan ghibah.

[4] Al-Qur’an, Surah Al-Humazah [104]: 1–4. Peringatan terhadap pengumpat dan pencela.

[5] Al-Qur’an, Surah An-Nisa’ [4]: 29–30. Larangan mengambil harta sesama dengan cara yang batil dan melakukan kezaliman.

[6] Ali Trigiyatno. “Hakikat Orang Bangkrut.” Suara Muhammadiyah, 18 Maret 2020. Artikel membahas makna kebangkrutan di akhirat, kesalehan ritual dan sosial, serta pentingnya menyelesaikan kesalahan terhadap sesama di dunia. (Suara Muhammadiyah).

[7] Al-Bukhari, Muhammad ibn Ismail. Shahih al-Bukhari, Kitab ar-Riqaq, Hadis no. 6534. Tentang kewajiban menyelesaikan kezaliman terhadap orang lain sebelum datang hari ketika tidak ada lagi dinar dan dirham. (Sunnah.com).

[8] Majelis Tabligh Muhammadiyah. “Orang yang Bangkrut.” Majelis Tabligh Muhammadiyah. Rujukan pembahasan mengenai hadis muflis, introspeksi, dan pentingnya menjaga hubungan dengan sesama.

-Susilo Indarto DSP-

Dalam kehidupan dunia yang fana ini, manusia sering kali terjebak dalam hiruk pikuk pekerjaan, ambisi, persaingan, dan tuntutan pencapaian. Tak jarang, ukuran keberhasilan pun dilihat dari banyaknya harta, jabatan, ataupun bahkan ibadah lahiriah yang tampak wah. Namun, kisah-kisah para sahabat Rasulullah ﷺ justru memberikan pencerahan bahwa kunci meraih surga bukan semata karena pencapaian-pencapaian tersebut, ataupun banyaknya ibadah lahiriah, melainkan kebeningan hati serta akhlak yang mulia.

Kisah Seorang Calon Penghuni Surga

Dalam sebuah riwayat yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, disebutkan bahwa suatu hari Rasulullah ﷺ bersabda di hadapan para sahabat:

 يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ

“Akan datang kepada kalian sekarang seorang penghuni surga.”

Kemudian datanglah seorang laki-laki Anshar yang janggutnya masih basah karena wudhu dan sandalnya dijinjing dengan tangan kirinya. Hal ini terjadi selama tiga hari berturut-turut. Abdullah bin Amr bin al-‘Ash penasaran dan ingin mengetahui amalan apa yang membuat laki-laki itu mendapat jaminan surga dari Rasulullah ﷺ. Ia pun meminta izin untuk menginap di rumahnya selama tiga hari.

Selama tinggal bersama, Abdullah bin Amr tidak melihat ada amalan istimewa yang dilakukan laki-laki Anshar itu. Ia tidak banyak berpuasa atau melakukan shalat malam secara berlebihan. Akhirnya, Abdullah bin Amr bertanya secara jujur, apa amalan yang dilakukannya hingga Rasulullah ﷺ menyebutnya sebagai penghuni surga.

Laki-laki itu menjawab:

مَا هُوَ إِلَّا مَا رَأَيْتَ، غَيْرَ أَنِّي لَا أَجِدُ فِي نَفْسِي لِأَحَدٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ غِشًّا وَلَا أَحْسُدُ أَحَدًا عَلَى خَيْرٍ أَعْطَاهُ اللهُ إِيَّاهُ

“Tidak ada selain yang anda lihat. Kecuali mungkin aku tidak merasakan dalam diriku kotor hati kepada seorang muslim pun dan aku tidak pernah hasud kepada seorang pun yang Allah berikan kebaikan kepadanya.” [1]

Mendengar itu, Abdullah bin Amr berkata, 

 هَذِهِ الَّتِي بَلَغَتْ بِكَ وَهِيَ الَّتِي لَا نُطِيقُ

“Inilah yang menjadikanmu mencapai derajat itu, dan inilah yang tidak mampu kami lakukan.”

 

Hati yang Bersih adalah Kunci

Kisah ini menunjukkan bahwa hati yang bersih dari iri, dengki, dan dendam adalah salah satu amalan besar yang mengantarkan seseorang ke surga. Ini selaras dengan sabda Rasulullah ﷺ:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada seberat dzarrah dari kesombongan.” (HR. Muslim no. 91) [2]

Kesombongan, iri, dengki, dan dendam adalah penyakit hati yang dapat menghancurkan amal dan memutus tali persaudaraan.

Allah ﷻ pun memuji orang-orang yang mensucikan jiwanya:

قَدْ اَفْلَحَ مَنْ تَزَكّٰىۙ

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan dirinya.” (QS. Al-A’laa:14) [3]

Penyucian diri di sini mencakup pembersihan hati dari segala penyakit batin.

Relevansi dalam Dunia Pekerjaan

Di lingkungan kerja, kita tak luput dari ujian hati: iri terhadap rekan yang selalu dilibatkan dalam proyek, dengki pada kolega yang lebih dekat dengan pimpinan, atau menyimpan dendam karena pernah dimarahi atau murni tidak suka dengan orang tersebut. Semua itu adalah penyakit yang sering dianggap biasa namun berdampak besar secara spiritual.

Bayangkan jika kita mampu bekerja dengan penuh keikhlasan, mendukung rekan yang sukses, tidak memendam prasangka buruk, dan mendoakan kebaikan bagi semua. Betapa tenteramnya lingkungan kerja dan betapa besarnya pahala yang kita raih di sisi Allah.

Sebagaimana kisah sahabat Rasulullah tadi, amalan lahiriah bisa saja tampak sederhana, namun kebersihan hati adalah istimewa.

Akhlak Baik: Bekal ke Surga

Dalam sebuah hadits disebutkan:

إنَّ المُؤْمِنَ ليُدرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَةَ الصَّائِمِ القَائِمِ

“Sesungguhnya seorang mukmin bisa meraih derajat orang yang rajin berpuasa dan shalat dengan sebab akhlaknya yang luhur.” (HR. Ahmad no. 25013 dan Abu Dawud no. 4165. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhiib no. 2643.)[4]

Berikut beberapa poin penting yang bisa kita ambil dari kisah Abdullah bin Amr dan lelaki Anshar tersebut:

  1. Jaga kebersihan hati di tempat kerja
    Hindari menyimpan iri hati, dendam, atau benci pada rekan kerja. Saling support jauh lebih menyenangkan dan membawa keberkahan.
  2. Luruskan niat bekerja
    Niatkan bekerja sebagai bagian dari ibadah kepada Allah. Dengan begitu, pekerjaan bukan hanya sekadar rutinitas, tapi bisa jadi jalan menuju surga.
  3. Memaafkan lebih cepat
    Jangan biarkan kesalahan kecil menjadi batu sandungan. Orang yang mudah memaafkan, hatinya lapang, pikirannya tenang, dan auranya positif ke semua orang.
  4. Jangan membicarakan keburukan rekan kerja
    Ghibah dan su’udzan bisa jadi dosa besar. Lebih baik fokus memperbaiki diri dan membantu rekan kerja yang sedang kesulitan.
  5. Bersyukur dan tidak iri atas pencapaian orang lain
    Ketika teman mendapatkan yang lebih dari kita, seharusnya kita ikut senang dan mendoakan dengan baik. Allah akan memberi gantinya untuk kita kelak.
  6. Jadikan akhlak sebagai pencitraan terbaik
    Di dunia kerja, kejujuran, kesabaran, dan integritas lebih kuat daripada CV panjang. Akhlak mulia membuka banyak pintu, bahkan yang tak disangka-sangka.
  7. Menjauhkan diri dari sifat sombong
    Sombong merupakan sikap yang merugikan diri sendiri dan merusak hubungan dengan orang lain. Dalam lingkungan kerja, kesombongan dapat menghambat kolaborasi, menutup pintu kesempatan, serta mengurangi keberkahan dalam pekerjaan. Bersikap rendah hati, meskipun telah meraih banyak pencapaian. Jangan merasa diri paling hebat atau paling berjasa di tempat kerja. dan selalu ingat bahwa setiap keberhasilan adalah anugerah dari Allah SWT.

Dengan menjaga akhlak dalam kehidupan sosial, termasuk di tempat kerja, InshaAllah kita sedang membuka jalan menuju surga.

Penutup

Marilah kita berusaha membenahi hati: memaafkan yang menyakiti, menghapus iri dalam diri, dan mendoakan kebaikan bagi sesama. Surga bukan hanya untuk yang banyak ibadah, tapi juga bagi mereka yang mampu menjaga hatinya tetap bersih.

Wallahu a’lam.

Marāji’:

[1] Abu Amina Elias. A man is guaranteed Paradise for having no hatred or envy in his heart. 23 November 2011. Diakses dari: https://www.abuaminaelias.com/dailyhadithonline/2011/11/23/man-jannah-no-hasad

[2] Muslim bin al-Hajjaj. Shahih Muslim, no. 91a, Kitab al-Iman. Diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud. Diakses dari: https://nashislam.com/hadits/artikel/97/hakekat-kesombongan/

[3] Al-Qur’an Surat Al-A’laa:14. Tafsir Ibnu Katsir. Diakses dari: https://tafsirweb.com/12560-surat-al-ala-ayat-14.html

[4] Muslim.or.id. (2019, 10 Oktober). Keutamaan berhias dengan akhlak mulia. Diakses dari: https://muslim.or.id/40677-keutamaan-berhias-dengan-akhlak-mulia.html

[5] Redaksi Suara Muhammadiyah. (2024). Keutamaan dan Kedudukan Akhlaq. Diakses pada 30 Juli 2025 dari: https://www.suaramuhammadiyah.id/read/keutamaan-dan-kedudukan-akhlaq

-Susilo Indarto, S.Pi. DSP-

 

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Bulan suci Ramadan semakin dekat, dan kita sebagai umat Muslim harus menyongsong kedatangannya dengan hati yang tulus dan penuh persiapan. Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus selama sepanjang hari, tetapi juga merupakan kesempatan untuk memperbaiki diri, mendekatkan diri kepada Allah SWT, dan memperbaiki hubungan dengan sesama.

Seiring dengan mendekatnya bulan Ramadan, kita juga baru saja melalui proses pemilihan presiden yang penuh dengan dinamika dan perbedaan pendapat. Hasil pemilu seringkali menimbulkan perasaan senang di pihak yang merasa menang, namun juga bisa menimbulkan kekecewaan di pihak yang kalah. Alhasil, perdebatan bahkan pertengkaran di lingkungan kerja dapat terjadi. Di sinilah pentingnya kita sebagai umat Muslim untuk menjaga persatuan dan kesatuan. Allah SWT berfirman dalam Al-Quran Surah Al-Hujurat ayat 10:

innamal-mu’minûna ikhwatun fa ashliḫû baina akhawaikum wattaqullâha la‘allakum tur-ḫamûn

yang artinya:

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah kedua saudaramu (yang bertikai) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu dirahmati.” (QS. Al-Hujurat: 10)

Ayat ini mengajarkan kepada kita pentingnya menjaga persaudaraan di antara sesama Muslim. Terlebih lagi, dalam menyongsong bulan suci ramadhan, kita harus berupaya untuk menjauhkan diri dari konflik dan perselisihan. Salah satu bentuk perselisihan yang sering terjadi di tempat kerja adalah perbedaan pilihan politik. Kita harus memahami bahwa setiap individu memiliki hak untuk memiliki pendapat dan pilihan politiknya sendiri. Namun, hal ini tidak boleh menjadi penyebab konflik di antara kita. Apalagi menghasut orang lain agar menimbulkan perpecahan. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadis riwayat Imam Ahmad:

“Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba (al-qattāt).” (H.R. Al-Bukhari : 6056 ; Muslim : 105)

Nabi -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- memberitahukan ancaman keras kepada pelaku adu domba, yaitu orang yang menyampaikan perkataan di antara manusia dengan tujuan menimbulkan kerusakan. Al-qattāt artinya “an-nammām” (pengadu domba). Perbuatan ini termasuk dosa besar berdasarkan hadis tersebut.

Hadis ini menegaskan larangan bagi kita untuk menyebarkan fitnah atau menciptakan konflik di antara sesama Muslim. Sebagai gantinya, kita harus berusaha untuk mempererat tali persaudaraan dan membangun hubungan yang saling menghormati.

Tips menghindari konflik

Berikut beberapa tips yang dapat dilakukan untuk menghindari konflik atau pertengkaran akibat perbedaan pilihan di tempat kerja:

  1. Hindari Pembicaraan Politik yang Sensitif : Batasi diskusi politik di tempat kerja dan hindari membahas isu-isu yang dapat memicu konflik.
  2. Jaga Etika Komunikasi : Saat berdiskusi, jaga sikap dan kata-kata agar tidak menyinggung perasaan orang lain. Dengarkan dengan baik dan hargai pandangan orang lain.
  3. Prioritaskan Keharmonisan : Ingatkan diri sendiri bahwa keharmonisan di tempat kerja lebih penting daripada perbedaan pendapat politik.
  4. Fokus pada Tujuan Bersama : Ingatkan diri dan rekan kerja bahwa tujuan utama kita di tempat kerja adalah untuk bekerja sama mencapai hasil yang baik.
  5. Jauhi Ghibah (Gossip) : Hindari berkomentar negatif atau menyebarkan informasi yang tidak benar tentang orang lain, terutama terkait dengan pilihan politik mereka.
  6. Berpegang pada Prinsip-Prinsip Islam : Selalu ingatkan diri untuk bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip Islam dalam berinteraksi dengan sesama.

Oleh karena itu, menyongsong bulan Ramadan yang suci ini, marilah kita bersama-sama berupaya untuk memperbaiki diri, menjaga hubungan baik dengan sesama, dan menghindari konflik yang tidak bermanfaat. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan hidayah-Nya kepada kita semua. Amin Ya Rabbal Alamin.

-Susilo Indarto DSP-