Tag Archive for: nurul wahyuni

Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan alami yang memiliki peranan penting dalam memenuhi kebutuhan bayi pada awal kehidupan. ASI menyediakan zat gizi yang dibutuhkan bayi serta memberikan perlindungan terhadap berbagai penyakit. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan, kemudian dilanjutkan bersama makanan pendamping sampai usia dua tahun atau lebih. ASI adalah makanan terbaik untuk bayi. ASI akan mencegah malnutrisi karena ASI mengandung zat-zat gizi yang dibutuhkan bayi dengan tepat, mudah digunakan secara efisien oleh tubuh bayi dan melindungi bayi terhadap infeksi. Selama tahun pertama kehidupannya, sistem kekebalan bayi belum sepenuhnya berkembang dan tidak bisa melawan infeksi seperti halnya anak yang lebih besar atau orang dewasa, oleh karena itu zat kekebalan yang terkandung dalam ASI sangat berguna.
Dalam Islam, menyusui juga mendapatkan perhatian khusus. Al-Qur’an tidak hanya membahas hubungan antara ibu dan anak, tetapi juga memberikan petunjuk mengenai masa penyusuan, tanggung jawab orang tua, nafkah, penyapihan, serta kemungkinan menggunakan ibu susuan. 

Dalam QS. Al-Baqarah ayat 233, Allah SWT berfirman:

وَالْوٰلِدٰتُ يُرْضِعْنَ اَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ اَرَادَ اَنْ يُّتِمَّ الرَّضَاعَةَۗ وَعَلَى الْمَوْلُوْدِ لَهٗ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِۗ
“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan.”


Ayat tersebut menunjukkan bahwa dua tahun merupakan masa penyusuan yang sempurna. Namun, Islam juga memberikan ruang bagi orang tua untuk mengambil keputusan sesuai dengan kondisi ibu dan anak. Penyapihan dapat dilakukan sebelum dua tahun apabila terdapat kesepakatan antara ayah dan ibu serta keputusan tersebut tidak membahayakan anak. Manfaat menyusui melampaui sekadar nutrisi, meliputi aspek kesehatan fisik, emosional, dan finansial. Untuk bayi, ASI adalah sumber nutrisi sempurna dan perlindungan kekebalan yang tak tergantikan, mendukung perkembangan optimal di setiap tahap awal kehidupan. Bagi ibu, menyusui adalah bagian penting dari pemulihan pasca-melahirkan dan pencegahan penyakit kronis jangka panjang, sambil memperkuat ikatan batin dengan buah hati.  

Dalam, Islam mengajarkan keseimbangan antara anjuran menyusui dan mempertimbangkan kondisi nyata yang dihadapi keluarga. Menyusui memang dilakukan oleh ibu, tetapi Islam tidak menjadikan seluruh tanggung jawab berada di pundak ibu. Ayah memiliki kewajiban untuk memberikan nafkah dan memenuhi kebutuhan ibu serta anak.Ibu yang menyusui membutuhkan makanan, istirahat, dan dukungan yang memadai. Oleh karena itu, keluarga seharusnya menciptakan lingkungan yang mendukung ibu agar dapat menjalankan proses menyusui dengan baik.Dukungan dari ayah dan keluarga juga merupakan bentuk tanggung jawab terhadap amanah yang diberikan Allah SWT.

-Nurul Wahyuni DSP-

Di era modern seperti sekarang ini, sosial media menjadi salah satu hal yang sangat mudah diakses. Melalui sosial media, kita dapat melihat berbagai informasi dan bahkan kehidupan orang lain. Terkadang, dengan melihat kehidupan orang lain di sosial media, kita merasa seolah-olah hidup mereka lebih indah dan sempurna dibandingkan dengan kehidupan yang kita jalani. Hal ini sering kali membuat kita lupa diri, karena terlalu fokus pada kehidupan orang lain, sementara kita mengabaikan apa yang telah kita miliki.

Sebagai umat Islam, kita diajarkan untuk selalu bersyukur atas segala nikmat yang Allah berikan. Allah mengingatkan kita dalam Al-Qur’an untuk tidak terlalu membandingkan diri kita dengan orang lain, karena setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda-beda. Oleh karena itu, marilah kita selalu bersyukur atas segala karunia yang telah diberikan-Nya, serta fokus pada apa yang kita jalani, agar kita dapat menjalani hidup dengan lebih tenang, bahagia, dan penuh rasa syukur.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bersyukur berarti rasa terima kasih kepada Allah, merasa untung, atau perasaan lega dan senang atas apa yang diperoleh. Namun, dalam konteks agama, konsep syukur memiliki makna yang lebih mendalam. Syukur, menurut Ibnul Qayyim, adalah menunjukkan adanya nikmat Allah yang diberikan kepada seseorang. Hal ini bisa dilakukan melalui lisan, yaitu dengan memuji Allah dan mengungkapkan kesadaran bahwa kita telah menerima nikmat-Nya. Lebih dari itu, syukur juga mencakup penerimaan terhadap segala ketetapan Allah, baik itu berupa nikmat maupun musibah.

Dengan demikian, bersyukur bukan hanya dilakukan ketika kita dalam keadaan senang atau memperoleh nikmat, tetapi juga ketika menghadapi ujian atau musibah. Syukur yang sejati adalah ketika kita tetap bersyukur dalam segala keadaan, baik dalam suka maupun duka, karena kita meyakini bahwa setiap ketentuan-Nya adalah yang terbaik untuk kita.

Mengucapkan Alhamdulillah saat menerima kenikmatan dari Allah SWT adalah salah satu bentuk syukur yang mudah kita amalkan. Bersyukur merupakan cara seorang hamba untuk mengungkapkan rasa terima kasih kepada Allah SWT. Sebagai umat Muslim, rasa syukur juga menjadi benteng dari sifat iri, benci, dan tindakan negatif yang seringkali muncul akibat pengaruh media sosial. Dengan bersyukur, kita belajar menerima segala sesuatu sebagai ketetapan dan kehendak Allah SWT. Melatih diri untuk selalu bersyukur tidak hanya mendatangkan ketenangan hati, tetapi juga memperkuat keimanan dan menjaga hubungan yang baik dengan Allah SWT serta sesama manusia.

Memiliki sifat syukur dalam diri akan menumbuhkan karakter positif seperti ikhlas, tawakal, qanaah, dan sabar. Sebaliknya, ketiadaan rasa syukur dapat menumbuhkan sifat negatif yang merugikan, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Sifat-sifat negatif tersebut antara lain adalah putus asa, buruk sangka, iri hati, hasad, dan kesombongan. Dengan bersyukur, seseorang akan lebih mudah menerima segala ketetapan Allah SWT dengan hati yang lapang dan penuh keikhlasan. Hal ini sesuai yang dijelasan dalam  Al-Quran surah Surat Ibrahim Ayat 7


وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ

Artinya: Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

Bersyukur atas semua nikmat yang Allah SWT berikan juga dapat meningkatkan keimanan kita kepada Allah SWT karena kita selalu mengingat Allah SWT, seperti yang disampaikan dalam hadits riwayat Thabrani :

(قَا اللهُ تَعَالىَ : يَاابْنَ اَدَمَ, اِنَّكَ مَاذَكَرْتَنِى شَكَرْتَنِى, وَاِذَامَانَسِيْتَنِى كَفَرْتَنِى (رواه الطبرانى عن ابى هريرة

Artinya: “Allah berfirman dalam hadits qudsi-Nya: “wahai anak Adam, bahwa selama engkau mengingat Aku, berarti engkau mensyukuri Aku, dan apabila engkau melupakan Aku, berarti engkau telah mendurhakai Aku!” [H.R Thabrani].

Dari Ayat dan Hadis tersebut kita bisa mengambil hikmah bahwa Allah SWT akan melipatgandakan nikmat-Nya bagi hamba yang senantiasa bersyukur. Dengan bersyukur, kita tidak hanya mendapatkan tambahan nikmat, tetapi juga kebahagiaan yang besar dalam kehidupan sehari-hari.

Rasa syukur dapat meningkatkan kebahagiaan, dan orang yang bahagia akan memberikan dampak positif bagi dirinya sendiri maupun orang di sekitarnya. Oleh karena itu, sebagai seorang Muslim, bersyukur harus dilatih dan dibiasakan.

Cara Membiasakan Diri untuk Bersyukur:

  1. Selalu mengucapkan Alhamdulillah setiap kali merasakan dan menerima rezeki dari Allah SWT.
  2. Memanfaatkan apa yang kita miliki dengan baik sebagai bentuk rasa syukur.
  3. Tidak mudah mengeluh ketika menghadapi kesulitan atau keterbatasan.
  4. Tidak membandingkan diri dengan orang lain dan fokus pada nikmat yang telah diberikan.
  5. Memperbanyak bersedekah kepada mereka yang membutuhkan sebagai wujud syukur atas nikmat yang dimiliki.

Manfaat Bersyukur:

  1. Meningkatkan keimanan kepada Allah SWT.
  2. Hidup menjadi lebih tenang karena hati dipenuhi rasa ikhlas dan penerimaan.
  3. Kesehatan mental lebih terjaga, jauh dari stres dan kecemasan.
  4. Terhindar dari dendam serta perasaan negatif lainnya.
  5. Hidup menjadi lebih berkah dengan nikmat yang terus bertambah.
  6. Pikiran menjadi lebih lega dan hati terasa lebih damai.

Dengan membiasakan diri untuk bersyukur, kita tidak hanya mendapatkan keberkahan hidup, tetapi juga membangun pribadi yang lebih sabar, ikhlas, dan penuh rasa syukur kepada Allah SWT. Aamiin