kegiatan dan aktivitas dakwah Islamiyyah tendik di lingkungan DSP

Di era modern seperti sekarang ini, sosial media menjadi salah satu hal yang sangat mudah diakses. Melalui sosial media, kita dapat melihat berbagai informasi dan bahkan kehidupan orang lain. Terkadang, dengan melihat kehidupan orang lain di sosial media, kita merasa seolah-olah hidup mereka lebih indah dan sempurna dibandingkan dengan kehidupan yang kita jalani. Hal ini sering kali membuat kita lupa diri, karena terlalu fokus pada kehidupan orang lain, sementara kita mengabaikan apa yang telah kita miliki.

Sebagai umat Islam, kita diajarkan untuk selalu bersyukur atas segala nikmat yang Allah berikan. Allah mengingatkan kita dalam Al-Qur’an untuk tidak terlalu membandingkan diri kita dengan orang lain, karena setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda-beda. Oleh karena itu, marilah kita selalu bersyukur atas segala karunia yang telah diberikan-Nya, serta fokus pada apa yang kita jalani, agar kita dapat menjalani hidup dengan lebih tenang, bahagia, dan penuh rasa syukur.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bersyukur berarti rasa terima kasih kepada Allah, merasa untung, atau perasaan lega dan senang atas apa yang diperoleh. Namun, dalam konteks agama, konsep syukur memiliki makna yang lebih mendalam. Syukur, menurut Ibnul Qayyim, adalah menunjukkan adanya nikmat Allah yang diberikan kepada seseorang. Hal ini bisa dilakukan melalui lisan, yaitu dengan memuji Allah dan mengungkapkan kesadaran bahwa kita telah menerima nikmat-Nya. Lebih dari itu, syukur juga mencakup penerimaan terhadap segala ketetapan Allah, baik itu berupa nikmat maupun musibah.

Dengan demikian, bersyukur bukan hanya dilakukan ketika kita dalam keadaan senang atau memperoleh nikmat, tetapi juga ketika menghadapi ujian atau musibah. Syukur yang sejati adalah ketika kita tetap bersyukur dalam segala keadaan, baik dalam suka maupun duka, karena kita meyakini bahwa setiap ketentuan-Nya adalah yang terbaik untuk kita.

Mengucapkan Alhamdulillah saat menerima kenikmatan dari Allah SWT adalah salah satu bentuk syukur yang mudah kita amalkan. Bersyukur merupakan cara seorang hamba untuk mengungkapkan rasa terima kasih kepada Allah SWT. Sebagai umat Muslim, rasa syukur juga menjadi benteng dari sifat iri, benci, dan tindakan negatif yang seringkali muncul akibat pengaruh media sosial. Dengan bersyukur, kita belajar menerima segala sesuatu sebagai ketetapan dan kehendak Allah SWT. Melatih diri untuk selalu bersyukur tidak hanya mendatangkan ketenangan hati, tetapi juga memperkuat keimanan dan menjaga hubungan yang baik dengan Allah SWT serta sesama manusia.

Memiliki sifat syukur dalam diri akan menumbuhkan karakter positif seperti ikhlas, tawakal, qanaah, dan sabar. Sebaliknya, ketiadaan rasa syukur dapat menumbuhkan sifat negatif yang merugikan, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Sifat-sifat negatif tersebut antara lain adalah putus asa, buruk sangka, iri hati, hasad, dan kesombongan. Dengan bersyukur, seseorang akan lebih mudah menerima segala ketetapan Allah SWT dengan hati yang lapang dan penuh keikhlasan. Hal ini sesuai yang dijelasan dalam  Al-Quran surah Surat Ibrahim Ayat 7


وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ

Artinya: Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

Bersyukur atas semua nikmat yang Allah SWT berikan juga dapat meningkatkan keimanan kita kepada Allah SWT karena kita selalu mengingat Allah SWT, seperti yang disampaikan dalam hadits riwayat Thabrani :

(قَا اللهُ تَعَالىَ : يَاابْنَ اَدَمَ, اِنَّكَ مَاذَكَرْتَنِى شَكَرْتَنِى, وَاِذَامَانَسِيْتَنِى كَفَرْتَنِى (رواه الطبرانى عن ابى هريرة

Artinya: “Allah berfirman dalam hadits qudsi-Nya: “wahai anak Adam, bahwa selama engkau mengingat Aku, berarti engkau mensyukuri Aku, dan apabila engkau melupakan Aku, berarti engkau telah mendurhakai Aku!” [H.R Thabrani].

Dari Ayat dan Hadis tersebut kita bisa mengambil hikmah bahwa Allah SWT akan melipatgandakan nikmat-Nya bagi hamba yang senantiasa bersyukur. Dengan bersyukur, kita tidak hanya mendapatkan tambahan nikmat, tetapi juga kebahagiaan yang besar dalam kehidupan sehari-hari.

Rasa syukur dapat meningkatkan kebahagiaan, dan orang yang bahagia akan memberikan dampak positif bagi dirinya sendiri maupun orang di sekitarnya. Oleh karena itu, sebagai seorang Muslim, bersyukur harus dilatih dan dibiasakan.

Cara Membiasakan Diri untuk Bersyukur:

  1. Selalu mengucapkan Alhamdulillah setiap kali merasakan dan menerima rezeki dari Allah SWT.
  2. Memanfaatkan apa yang kita miliki dengan baik sebagai bentuk rasa syukur.
  3. Tidak mudah mengeluh ketika menghadapi kesulitan atau keterbatasan.
  4. Tidak membandingkan diri dengan orang lain dan fokus pada nikmat yang telah diberikan.
  5. Memperbanyak bersedekah kepada mereka yang membutuhkan sebagai wujud syukur atas nikmat yang dimiliki.

Manfaat Bersyukur:

  1. Meningkatkan keimanan kepada Allah SWT.
  2. Hidup menjadi lebih tenang karena hati dipenuhi rasa ikhlas dan penerimaan.
  3. Kesehatan mental lebih terjaga, jauh dari stres dan kecemasan.
  4. Terhindar dari dendam serta perasaan negatif lainnya.
  5. Hidup menjadi lebih berkah dengan nikmat yang terus bertambah.
  6. Pikiran menjadi lebih lega dan hati terasa lebih damai.

Dengan membiasakan diri untuk bersyukur, kita tidak hanya mendapatkan keberkahan hidup, tetapi juga membangun pribadi yang lebih sabar, ikhlas, dan penuh rasa syukur kepada Allah SWT. Aamiin

Dalam ajaran Islam, cinta akhirat dan zuhud (menghindari kecintaan berlebihan pada dunia) adalah konsep spiritual yang memberikan panduan hidup bagi setiap Muslim agar senantiasa fokus pada tujuan kehidupan yang abadi. Dengan mencintai akhirat dan menjalani kehidupan dunia dengan zuhud, seseorang diajak untuk melihat hidup ini bukan sebagai tujuan akhir, tetapi sebagai sarana untuk mencapai kebahagiaan abadi di akhirat.

عن زيد بن ثابت رضي اللَّه عنه قال، قال رسول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ 

مَنْ كانت الدنيا هَمَّهُ فَرَّق الله عليه أمرَهُ وجَعَلَ فَقْرَهُ بين عينيه ولم يَأْتِه من الدنيا إلا ما كُتِبَ له، ومن كانت الآخرةُ نِيَّتَهُ جَمَعَ اللهُ له أَمْرَهُ وجَعَلَ غِناه في قَلْبِه وأَتَتْهُ الدنيا وهِيَ راغِمَةٌ

Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: Kami mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuan utamanya maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan/ tidak pernah merasa cukup (selalu ada) di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya. Dan barangsiapa yang (menjadikan) akhirat niat (tujuan utama) nya maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan/ selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah (tidak bernilai dihadapannya). HR Ibnu Majah (no. 4105), Ahmad (5/183), ad-Darimi (no. 229), Ibnu Hibban (no. 680) dan lain-lain dengan sanad yang shahih, dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, al-Bushiri dan syaikh al-Albani.

Pelajaran yang terdapat di dalam hadist :

1️. Hadits yang mulia ini menunjukkan keutamaan cinta kepada akhirat dan zuhud dalam kehidupan dunia, serta celaan dan ancaman besar bagi orang yang terlalu berambisi mengejar harta benda duniawi

2️. Orang yang cinta kepada akhirat akan memperoleh rezki yang telah Allah tetapkan baginya di dunia tanpa bersusah payah, berbeda dengan orang yang terlalu berambisi mengejar dunia, dia akan memperolehnya dengan susah payah lahir dan batin

3️. Salah seorang ulama salaf berkata, “Barangsiapa yang mencintai dunia (secara berlebihan) maka hendaknya dia mempersiapkan dirinya untuk menanggung berbagai macam musibah (penderitaan)“.

4️. Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata, “Orang yang mencintai dunia (secara berlebihan) tidak akan lepas dari tiga (macam penderitaan): Kekalutan (pikiran) yang selalu menyertainya, kepayahan yang tiada henti, dan penyesalan yang tiada berakhir. 

5️. Kekayaan yang hakiki adalah kekayaan dalam hati/jiwa. Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta benda, tetapi kekayaan (yang hakiki) adalah kekayaan (dalam) jiwa“.

6️. Kebahagiaan hidup dan keberuntungan di dunia dan akhirat hanyalah bagi orang yang cinta kepada Allah dan hari akhirat, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh sangat beruntung seorang yang masuk Islam, kemudian mendapatkan rizki yang secukupnya dan Allah menganugrahkan kepadanya sifat qana’ah (merasa cukup dan puas) dengan rezki yang Allah Ta’ala berikan kepadanya”.

7️. Sifat yang mulia ini dimiliki dengan sempurna oleh para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan inilah yang menjadikan mereka lebih utama dan mulia di sisi Allah Ta’ala dibandingkan generasi yang  datang setelah mereka. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kalian lebih banyak berpuasa, (mengerjakan) shalat, dan lebih bersungguh-sungguh (dalam beribadah) dibandingkan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tapi mereka lebih baik (lebih utama di sisi Allah Ta’ala) daripada kalian”. Ada yang bertanya: Kenapa (bisa demikian), wahai Abu Abdirrahman? Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Karena mereka lebih zuhud dalam (kehidupan) dunia dan lebih cinta kepada akhirat

Tema hadits yang berkaitan dengan Al-qur’an :

1️. Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya mencela sikap tamak kepada dunia. Bahkan, Allâh Azza wa Jalla sangat merendahkan kedudukan dunia dalam banyak ayat-ayat al-Qur-an. Allâh Azza wa Jalla berfirman bahwa kehidupan dunia adalah kehidupan yang menipu :

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” [Qs.Ali ‘Imrân/3:185]

2️. Mengingat perumpamaan ini menunjukkan akan lenyapnya dunia dan kehancurannya serta kehabisan usianya sebagai suatu kepastian, dan bahwa negeri akhirat itu ada dan pasti, maka diperingatkanlah untuk berhati-hati dalam menghadapinya, sekaligus mengandung anjuran untuk berbuat kebaikan yang akan membawa pahala kebaikan di negeri akhirat nanti. 

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

 

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentangbanyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allâh serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”[Qs. Al-Hadîd/57:20]

3️. Dunia kita gunakan sebagai sarana untuk menggapai kebahagiaan akhirat..

Dikatakan oleh Qurthubi dalam Al Jaami’ li Ahkamil Qur’an (7: 199), “Hendaklah seseorang menggunakan nikmat dunia yang Allah berikan untuk menggapai kehidupan akhirat yaitu surga. Karena seorang mukmin hendaklah memanfaatkan dunianya untuk hal yang bermanfaat bagi akhiratnya. Jadi ia bukan mencari dunia dalam rangka sombong dan angkuh.”

Janganlah engkau tinggalkan nasibmu di dunia yaitu hendaklah di dunia ini engkau beramal untuk akhiratmu.” Sangat jelas apa yang dimaksudkan oleh Jalaluddin As Suyuthi dan Jalaluddin Al Mahalli bahwa yang dimaksud ayat di atas bukan berarti kita harus menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan akhirat.

َابْتَغِ فِيمَا آَتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآَخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُ

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi”(QS. Al Qashshash: 77).

12 Rabiul Awal Tahun Gajah bertepatan dengan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, yaitu pada hari Senin, 20 April 571 Masehi. Tahun Gajah adalah tahun ketika pasukan bergajah yang dipimpin oleh Abrahah bin Shabah, Gubernur Jenderal Najasyi Habasyah di Yaman, menyerang. Namun, Allah SWT menghancurkan pasukan tersebut sebagai bentuk penghormatan atas kelahiran Nabi Muhammad SAW, sejak dalam kandungan beliau sudah ditinggalkan ayahnya, belum genap usia enam tahun sudah ditinggalkan ibunya.

Rasulullah Muhammad SAW merupakan nabi terakhir dan penutup dari seluruh nabi serta rasul yang diutus oleh Allah untuk umat manusia. Beliau adalah teladan sempurna dalam segala aspek kehidupan, dan segala perbuatan, ucapan, serta perilakunya mengandung hikmah yang luar biasa. Kepribadian beliau yang mulia tidak hanya menjadi teladan bagi umat Islam, tetapi juga relevan bagi seluruh umat manusia sepanjang zaman. Sebagai uswatun hasanah (contoh yang baik), beliau menunjukkan sikap-sikap mulia yang dapat diterapkan dalam berbagai situasi, seperti dalam hubungan sosial, ekonomi, kepemimpinan, dan juga hubungan pribadi dengan Allah.

Usia 40 tahun, Rasulullah Muhammad SAW diangkat menjadi rasul, dan seperti rasul-rasul lainnya, beliau memiliki sifat-sifat wajib yang pasti dimiliki oleh setiap nabi dan rasul. Sifat-sifat ini merupakan karakteristik yang tak terpisahkan dari diri seorang rasul yang membedakannya dari manusia biasa. Sifat-sifat wajib bagi para rasul adalah:

  1. Siddiq, artinya benar.
  2. Amanah, yang artinya dapat dipercaya.
  3. Tabliq, memiliki makna yakni menyampaikan wahyu.
  4. Fathonah, yang artinya yaitu cerdas, pandai dan bijaksana.

Selain sifat wajib tersebut, Rasulullah Muhammad SAW juga memilikli Akhlaq mulia yang bisa kita jadikan pedoman dan suri tauladan agar kita senantiasa berakhlaq baik sesuai dengan ajaran-Nya. Hal ini didasarkan dalam hadist yang berbunyi: “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kesalehan akhlak.” (HR. Bukhari dan Abu Hurairah r.a.).

Dalam kitab Shifat Al-shafwah menjelaskan contoh keteladanan akhlak rasulullah dalam 5 aspek kehidupan. 

  • Pertama Rasul tidak pernah sombong. 
  • Kedua Rasul tidak pernah berlaku kasar, tidak pernah berteriak ataupun melakukan hal hal buruk, beliau adalah orang yang lemah lembut hatinya.
  • Ketiga Rasul mempunyai sifat toleran. 
  • Keempat Rasul mempunyai sifat dermawan. 
  • Dan yang terakhir Rasul mempunyai sifat cinta sesama. 

Kemuliaan akhlak rasul tersebut tergambar melalui kisah ketika beliau berhadapan dengan seorang pengemis buta. Dikisahkan saat nabi Muhammad tengah menyebarkan ajaran agama Islam, terdapat seorang pengemis buta yang selalu menghina dan membenci Rasulullah, bahkan ia tidak segan-segan untuk menghasut orang lain agar membenci rasul. Jika ada seseorang yang mendekatinya, pengemis buta tersebut akan berkata “Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad. Dia itu orang gila, pembohong, tukang sihir. Apabila kalian mendekatinya maka kalian akan dipengaruhinya!”.

Hal itu terus menerus dikatakan oleh si pengemis buta kepada seseorang yang setiap hari memberikannya makanan bahkan menyuapinya. Kemudian pada suatu hari, ia merasa sangat kelaparan karena seseorang yang biasa memberikannya makanan dan mendengar ujaran kebenciannya kepada nabi Muhammad tidak kunjung menemuinya. 

Pada hari berikutnya, ada seseorang yang kembali mendatangi pengemis buta tersebut dan menyuapinya. Namun si pengemis tersebut sadar bahwa orang yang menyuapinya kali ini sangat berbeda dengan seseorang yang sering menyuapinya selama ini. Lalu ia pun berkata “Siapakah kamu? Kamu bukanlah orang yang biasa mendatangiku”. 

Orang itupun menjawab Aku memang bukan orang yang biasa datang kepadamu. Aku adalah salah seorang sahabatnya. Namaku Abu Bakar. Orang mulia yang biasa memberimu makan itu telah meninggal dunia. Dia adalah nabi Muhammad SAW”.

Jawaban tersebut sontak membuat si pengemis buta tersebut kaget dan merasa sangat menyesal telah memperolok nabi Muhammad, seseorang yang jelas-jelas selalu ia caci maki namun tetap memberikannya perhatian selama ini. Kemudian iapun tersadar bahwa Nabi Muhammad SAW adalah sosok yang memiliki akhlak sangat mulia. Beliau adalah pribadi yahg selalu bersabar dan ikhlas dalam menebar kebaikan bagi banyak orang.

Allah SWT telah berfirman dalam Al-Quran surat AZ-Zumar Ayat 10:

قُلۡ يٰعِبَادِ الَّذِيۡنَ اٰمَنُوا اتَّقُوۡا رَبَّكُمۡ​ ؕ لِلَّذِيۡنَ اَحۡسَنُوۡا فِىۡ هٰذِهِ الدُّنۡيَا حَسَنَةٌ ​ ؕ وَاَرۡضُ اللّٰهِ وَاسِعَةٌ ​ ؕ اِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوۡنَ اَجۡرَهُمۡ بِغَيۡرِ حِسَابٍ‏

Artinya: Katakanlah (Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman! Bertakwalah kepada Tuhanmu.” Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.

Berdasarkan kisah tersebut, semoga kita senantiasa bisa mencontoh dan mengambil hikmah dari akhlak mulia Rasulallah Muhammad SAW saat menebarkan kebaikan. Meski kadang menerima perlakuan yang zolim, namun kita harus tetap ikhlas dan bersabar dalam menegakan kebaikan tersebut.

Marilah sama-sama berdo’a agar kita bisa meneladani akhlaq Rasulallah Muhammad SAW dan mencintai beliau diatas segalanya. Semoga kita menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain dan termasuk golongan orang yang dirindukan masuk surga bersama Rasulullah Muhammad SAW.

Sumber: “Kumpulan pidato Bahasa Indonesia PORSADIN Tahun 2022”

               “Sirah Nabawiayah Syaikh Shafiyyurrahman AL-Mubarakfuri”

               “Shifat Al-shafwah Ibnu Al-Jauzi, Jamaluddin Abi al-Faraj”


Dalam Islam, terdapat ketentuan yang sangat jelas mengenai makanan dan minuman yang halal (diperbolehkan) dan haram (dilarang), hal ini didasarkan pada ajaran Al-Qur’an, Hadis, serta pendapat para ulama. Salah satu ayat yang menegaskan hal ini terdapat dalam
QS al-Baqarah/2: 168 sebagai berikut:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ كُلُوۡا مِمَّا فِى الۡاَرۡضِ حَلٰلًا طَيِّبًا  ۖ وَّلَا تَتَّبِعُوۡا خُطُوٰتِ الشَّيۡطٰنِؕ اِنَّهٗ لَـكُمۡ عَدُوٌّ مُّبِيۡنٌ‏ 

“ Wahai manusia Makanlah dari ( makanan ) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi mu” ( AL – Baqarah/2: 168)

Ayat ini mengajakan bahwa manusia harus memilih makanan yang halal dan baik, serta menjauhi makanan yang di haramkan. 

Adapun jenis-jenis makanan halal menurut wujudnya adalah sebagai berikut :

1). Makanan yang disebut halal oleh Allah dan Rasul-Nya. Hal ini sesuai dengan hadis berikut ini yang artinya :

“Apa yang dihalalkan oleh Allah dalam Kitab-Nya adalah halal dan apa yang diharamkan Allah di dalam Kitab-Nya adalah haram, dan apa yang didiamkan (tidak diterangkan), maka barang itu termasuk yang dimakan”. (H.R. Ibnu Majah dan Tirmizi)

2). Makanan yang tidak kotor dan tidak menjijikkan. Hal ini sesuai firman Allah dalam Q.S. al-A’rāf/7 ayat 157 :

وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبٰتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبٰۤىِٕثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ اِصْرَهُمْ وَالْاَغْلٰلَ الَّتِيْ كَانَتْ عَلَيْهِمْۗ 

Artinya : “ …dan yang menghalalkan segala yang baik bagi mereka dan mengharamkan segala yang buruk bagi mereka… “ (Q.S. al-A’rāf/7 : 157)

3). Makanan yang tidak mendatangkan mudarat, tidak membahayakan kesehatan tubuh, tidak merusak akal, serta tidak merusak moral dan aqidah. Firman-Nya dalam Q.S. al-Baqārah/2 ayat 168 :

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِى الْاَرْضِ حَلٰلًا طَيِّبًا ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

Artinya : “Wahai manusia, makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkahlangkah setan. Sungguh setan itu musuh yang nyata bagimu.” (Q.S. al- Baqārah/2 : 168)

 

Makanan Haram

  1. Semua makanan yang langsung dinyatakan haram dalam Q.S. al- Māidah/5 ayat 3, yaitu:

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيْرِ وَمَآ اُهِلَّ لِغَيْرِ اللّٰهِ بِهٖ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوْذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيْحَةُ وَمَآ اَكَلَ السَّبُعُ اِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْۗ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَاَنْ تَسْتَقْسِمُوْا بِالْاَزْلَامِۗ ذٰلِكُمْ فِسْقٌۗ اَلْيَوْمَ يَىِٕسَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ دِيْنِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِۗ اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ فَمَنِ اضْطُرَّ فِيْ مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِّاِثْمٍۙ فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Artinya : “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih bukan atas (nama) Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang  (diharamkan pula) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan pula) mengundi nasib dengan azlam (anak panah) (karena) itu perbuatan fasik…” (Q.S. al-Māidah/5 : 3)

Dalam ayat tersebut, makanan yang dinyatakan haram adalah :

  • bangkai,
  • darah,
  • daging babi,
  • daging hewan yang disembelih atas nama selain Allah Swt., hewan yang mati karena tercekik, dipukul, terjatuh, ditanduk hewan lain, diterkam binantang buas,
  • hewan yang disembelih untuk berhala.

2. Semua jenis makanan yang mendatangkan mudarat/bahaya terhadap kesehatan badan, jiwa, akal, moral, dan akidah. Perhatikan Q.S. al-A’raf/7 ayat 33:

قُلْ اِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْاِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَاَنْ تُشْرِكُوْا بِاللّٰهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهٖ سُلْطٰنًا وَّاَنْ تَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ

Artinya: “Katakanlah (Muhammad), “Tuhanku hanya mengharamkan segala perbuatan keji yang terlihat dan yang tersembunyi, perbuatan dosa, dan perbuatan zalim tanpa alasan yang benar …” (Q.S. al-A’raf/7 : 33)

3. Semua jenis makanan yang kotor dan menjijikkan (khobāis). Firman Allah dalam Q.S. al-A’raf/7 ayat 157:

وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبٰتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبٰۤىِٕثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ اِصْرَهُمْ وَالْاَغْلٰلَ الَّتِيْ كَانَتْ عَلَيْهِمْۗ 

Artinya: “… dan yang menghalalkan segala yang baik bagi mereka dan mengharamkan segala yang buruk bagi mereka,…” (Q.S. al-A’rāf /7 : 157)

4. Makanan yang didapatkan dengan cara batil. Perhatikan Q.S. an-Nisā’/4 ayat 29 berikut:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ اِلَّآ اَنْ تَكُوْنَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِّنْكُمْ ۗ وَلَا تَقْتُلُوْٓا اَنْفُسَكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيْمًا 

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh Allah Maha Penyayang kepadamu” (Q.S. an-Nisā’/4 : 29)

Selain ayat-ayat Al-Qur’an, hadis Nabi Muhammad saw, juga memberikan penjelasan tentang makanan yang halam dan haram. Nabi bersabda ” Makanan yang baik itu adalah yang di bersihkan dan nama Allah di sebutkan ketika menyebelihnya.” (HR.Muslim). Hadis ini menegaskan bahwa pentingnya menyebutkan nama Allah ketika menyembelih hewan untuk di makan agar dagingnya menjadi halal dan dapat di makan oleh umat muslim. 

Dengan mematuhi ketentuan makanan halal dan haram dalam Islam, umat muslim di harapkan dapat menjaga kesehatan fisik dan spiritual. Makanan yang halal tidak hanya memastikan kebersihan dan kebaikan fisik, tetapi juga membersihkan jiwa dari pengaruh buruk. Dalam kehidupan sehari-hari, penting bagi umat muslim untuk selalu memeriksa dan memastikan bahwa makan dan minuman yang di konsumsi sesuai dengan ajaran agama, sehingga mendapatkan berkah dan rahmat dari Allah Swt. Dengan memahami hikmah –hikmah tersebut, kita di ajak untuk menghargai pentingnya mengonsumsi makan dan minuman yang halal, ini bukan hanya sebagai bentuk ibadah, tetapi juga sebagai cara untuk menjaga kesehatan, mendapat berkah, dan mengembangkan karakter yang baik sesuai dengan ajaran Islam. Makan dan minuman yang halal adalah bagian integrasi dari kehidupan seseorang muslim, yang membantu dalam menjalin kehidupan yang bermakna dan diridhoi Allah Swt.

Refrensi: 

https://www.smpn2kandat.sch.id/2023/05/pai-kelas-8-makanan-dan-minuman-yang.html diakses 10 Oktober 2024

Buku Pelajaran Agama Islam kelas 6

 

disusun oleh : Akhirul Kurniawan DSP

Puja dan puji Syukur marilah panjatkan kehadirat Allah tuhan semesta alam yang telah melimpahkan Rahmat taufik serta hidayahnya kepada umat manusia terkhusus bagi umat muslim. Tak lupa sholawat serta salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad sholallahu alaihi wasalam beserta shohabat, tabi’in dan semoga kita termasuk di dalamnya amin ya robbal ‘alamin.

Dalam menjalani kehidupan, sadar ataupun tidak sadar kita tidak terlepas dari yang namanya salah dan lupa, untuk itu marilah sama-sama kita selalu memohon ampunan kepada Allah Subhanahu Wata’ala atas dosa yang telah kita perbuat dalam kehidupan sehari-hari dari bangun tidur sampai terlelapnya kita di malam hari agar hati kita menjadi tentram. Allah Swt. berfirman:

ۗالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ

Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”[Surah Ar-Ra’d : 28]. 

Ketika hati kita terasa gundah, gelisah dan merasa tidak mendapat kedamaian, salah satu cara agar kita mendapatkan ketenangan, ketentraman dan kedamaian adalah dengan selalu mengingat Allah dan beristighfar. Jikalau belum mendapat kedamaian dan ketentraman dalam hidup tetaplah beristighfar, jangan sampai lelah dan merasa kita tidak diperhatikan  Allah,  justru Allah menyayangi umatnya yang memohon ampunan setiap saat.

Dalam lingkungan kita bekerja terdapat banyak orang dengan sifat dan perilaku yang berbeda-beda, disitulah Allah menguji hambanya. Terdapat banyak bibit-bibit menumbuhkan persoalan yang dapat merusak kedamaian dan ketentraman saat bekerja. Biasanya orang yang merusak kedamaian itu adalah orang yang tidak jujur, seperti sabda Rosulullah Shalallahu Alaihi wassalam 

إِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ⁠

”Kejujuran akan mendatangkan ketenangan. Kedustaan akan mendatangkan kegelisahan.” [HR Tirmidzi no: 2518]. 

Orang yang tidak jujur akan di hantui dengan rasa yang tidak tenang dan akan terus di kejar-kejar oleh dosa, kehidupannya pun akan terus berantakan dan tidak ada keberkahan di dalamnya. Contoh ada orang dengan gaji yang sebetulnya sudah cukup, namun mempunyai gaya hidup mewah dan sifat gengsi yang mengakibatkan ketidakpuasan dan ketidakcukupan, meskipun secara materi sebenarnya sudah cukup. Ketika seseorang terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain dan mengikuti hawa nafsu duniawi, ia cenderung merasa kurang dan tidak pernah puas dengan rezeki yang diberikan oleh Allah,  akibatnya menghalalkan berbagai cara yang tidak diperbolehkan dalam syariat Islam untuk memenuhi nafsu yang hanya sesaat di dunia ini. 

Carilah harta yang benar-benar bisa menolong kita di akhirat, baik itu dalam jumlah yang besar ataupun kecil yang jelas itu bukan hasil dari mendholimi orang lain dan diri sendiri. Keberkahan itu bisa di cari dari manapun asal mau berusaha, berdoa dan bertawakal kepada Allah. 

Marilah senantiasa mengingat Allah dan Rosulnya, karena siapa lagi yang bisa menolong kita kelak di akhirat nanti, sedangkan amal kita belum cukup sebagai  tiket masuk ke surganya Allah yang kekal. Saya mengajak diri saya sendiri beserta teman-teman semua selalu berbuat baik dan berfikir positif tetap bersyukur dengan apa yang kita dapat, seberapapun itu jikalau halal pasti Allah akan mencukupkan, dan membuat hati senantiasa dipenuhi dengan rasa damai dan tentram, bermanfaat untuk orang lain serta berguna bagi agama Islam. Semoga kita selalu di hindarkan dari sifat-sifat yang merugikan orang lain dan diri kita sendiri.

أمين يا رب العالمين

Naskah Dakwah oleh: Ginanjar Warasta

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Bulan suci Ramadan semakin dekat, dan kita sebagai umat Muslim harus menyongsong kedatangannya dengan hati yang tulus dan penuh persiapan. Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus selama sepanjang hari, tetapi juga merupakan kesempatan untuk memperbaiki diri, mendekatkan diri kepada Allah SWT, dan memperbaiki hubungan dengan sesama.

Seiring dengan mendekatnya bulan Ramadan, kita juga baru saja melalui proses pemilihan presiden yang penuh dengan dinamika dan perbedaan pendapat. Hasil pemilu seringkali menimbulkan perasaan senang di pihak yang merasa menang, namun juga bisa menimbulkan kekecewaan di pihak yang kalah. Alhasil, perdebatan bahkan pertengkaran di lingkungan kerja dapat terjadi. Di sinilah pentingnya kita sebagai umat Muslim untuk menjaga persatuan dan kesatuan. Allah SWT berfirman dalam Al-Quran Surah Al-Hujurat ayat 10:

innamal-mu’minûna ikhwatun fa ashliḫû baina akhawaikum wattaqullâha la‘allakum tur-ḫamûn

yang artinya:

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah kedua saudaramu (yang bertikai) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu dirahmati.” (QS. Al-Hujurat: 10)

Ayat ini mengajarkan kepada kita pentingnya menjaga persaudaraan di antara sesama Muslim. Terlebih lagi, dalam menyongsong bulan suci ramadhan, kita harus berupaya untuk menjauhkan diri dari konflik dan perselisihan. Salah satu bentuk perselisihan yang sering terjadi di tempat kerja adalah perbedaan pilihan politik. Kita harus memahami bahwa setiap individu memiliki hak untuk memiliki pendapat dan pilihan politiknya sendiri. Namun, hal ini tidak boleh menjadi penyebab konflik di antara kita. Apalagi menghasut orang lain agar menimbulkan perpecahan. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadis riwayat Imam Ahmad:

“Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba (al-qattāt).” (H.R. Al-Bukhari : 6056 ; Muslim : 105)

Nabi -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- memberitahukan ancaman keras kepada pelaku adu domba, yaitu orang yang menyampaikan perkataan di antara manusia dengan tujuan menimbulkan kerusakan. Al-qattāt artinya “an-nammām” (pengadu domba). Perbuatan ini termasuk dosa besar berdasarkan hadis tersebut.

Hadis ini menegaskan larangan bagi kita untuk menyebarkan fitnah atau menciptakan konflik di antara sesama Muslim. Sebagai gantinya, kita harus berusaha untuk mempererat tali persaudaraan dan membangun hubungan yang saling menghormati.

Tips menghindari konflik

Berikut beberapa tips yang dapat dilakukan untuk menghindari konflik atau pertengkaran akibat perbedaan pilihan di tempat kerja:

  1. Hindari Pembicaraan Politik yang Sensitif : Batasi diskusi politik di tempat kerja dan hindari membahas isu-isu yang dapat memicu konflik.
  2. Jaga Etika Komunikasi : Saat berdiskusi, jaga sikap dan kata-kata agar tidak menyinggung perasaan orang lain. Dengarkan dengan baik dan hargai pandangan orang lain.
  3. Prioritaskan Keharmonisan : Ingatkan diri sendiri bahwa keharmonisan di tempat kerja lebih penting daripada perbedaan pendapat politik.
  4. Fokus pada Tujuan Bersama : Ingatkan diri dan rekan kerja bahwa tujuan utama kita di tempat kerja adalah untuk bekerja sama mencapai hasil yang baik.
  5. Jauhi Ghibah (Gossip) : Hindari berkomentar negatif atau menyebarkan informasi yang tidak benar tentang orang lain, terutama terkait dengan pilihan politik mereka.
  6. Berpegang pada Prinsip-Prinsip Islam : Selalu ingatkan diri untuk bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip Islam dalam berinteraksi dengan sesama.

Oleh karena itu, menyongsong bulan Ramadan yang suci ini, marilah kita bersama-sama berupaya untuk memperbaiki diri, menjaga hubungan baik dengan sesama, dan menghindari konflik yang tidak bermanfaat. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan hidayah-Nya kepada kita semua. Amin Ya Rabbal Alamin.

Akses naskah asli pada link Al-Rasikh berikut:
https://alrasikh.uii.ac.id/2023/09/13/iman-sebagai-tameng-kesehatan-mental/#top